Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai

Tiga Aspek Berdamai dengan Si Mba yang Sepuh

Ilustrasi (Foto: b-cdn.net)

Dalam hitungan bulan, MacBook Air saya akan berusia 10 tahun. Sebuah usia yang terbilang sepuh untuk ukuran sebuah komputer. Umumnya, laptop-laptop lain hanya kuat diajak bekerja keras hingga berusia 5 tahun, bahkan sebagian berhenti berfungsi pada usia 3 tahun.

Namun, rentang usia tersebut tidak berlaku untuk produk Apple. Pada usia satu dasawarsa ini, laptop tipis pertama di dunia ini masih sanggup dibawa bekerja, minimal untuk membuat presentasi penuh grafis. Sempat pula untuk diajak membuat video pendek, tetapi saya tidak sampai hati untuk membuatnya bekerja terlalu keras.

Bagi saya, MacBook Air ini punya kenangan tersendiri yang begitu mengagumkan. Si Mba, sebut saja dia demikian, merupakan buah lomba menulis tentang HAM tingkat nasional. “Barangkali ini rezeki dedek bayinya, yah,” ucap panitia lomba, sembari mengusap perut istri saya yang tengah hamil 5 bulan ketika itu.

Setelahnya, bersama Si Mba, saya berkunjung ke negara di ujung bumi Indonesia, dan juga menjajal Nusantara. Sejauh itu pula, si Mba banyak membantu dalam menuliskan kisah-kisah selama perjalanan. Keunggulan lainnya, si Mba juga termasuk kokoh dan tahan banting. Bahkan, pernah terjatuh dari ketinggian penggaris 30 Cm, dan masih tetap baik-baik saja.

Tentunya, pada usianya yang cukup sepuh ini, si Mba tidak segarang sebelumnya. Baterainya sudah tidak berfungsi, serta butuh waktu mencerna lebih banyak kala diajak bekerja, terutama pekerjaan yang berat-berat. Positifnya, saya jadi bisa menolak pekerjaan-pekerjaan yang di luar kompetensi saya untuk saat ini.

Rasanya, untuk mengganti si Mba dengan MbaYu (baca: MacBook Air Baru) bukan perkara mudah. Harganya yang setara motor matic sejuta umat membuat saya harus berpikir ratusan, bahkan ribuan kali. Belum lagi, isi dompet yang selalu melompong bukan padanan yang tepat untuk mengantongi MbaYu.

Akhirnya, saya memang harus bisa berdamai dengan si Mba. Setidaknya, ada tiga aspek perdamaian yang perlu saya negoisasikan bersamanya. Bagaimana pun, konsolidasi semacam ini sangat dibutuhkan untuk menunjang keberlangsungan aktivitas di era digital seperti saat ini.

Aspek pertama, saya harus mengenali aplikasi yang ringan dan mudah bagi si Mba. Adapun aplikasi-aplikasi yang cukup berat bagi “otak” si Mba perlu saya hilangkan, atau pun tidak saya gunakan kembali. Beberapa yang masuk dalam kategori ini, antara lain WhatsApp dan Adobe Reader. Untuk aplikasi WhatsApp sendiri, saya pindahkan ke browser. Adapun pembaca PDF terpaksa saya hilangkan karena memaksa prosesor bekerja cukup berat. Sebagai gantinya, saya menggunakan aplikasi Preview yang merupakan bawaan si Mba.

Untuk Browser, saya menggunakan Opera, atau setidaknya Safari. Keduanya termasuk aplikasi yang cukup ringan bagi si Mba. Adapun Chrome hanya saya gunakan kala memerlukan extension khusus yang tidak ada di Opera dan Safari. Sedangkan urusan bekerja dengan dokumen, saya banyak menggunakan iWork bawaan Apple sendiri. Selain sederhana dan powerfull, aplikasi ini juga cukup ringan bagi si Mba.

Salah satu yang belum saya mampu menemukan titik temunya adalah aplikasi catatan. Sejauh ini, saya masih menggunakan Evernote. Hanya saja, aplikasi ini berjalan ibarat siput di si Mba. Bila memang harus menulis dengan leluasa, saya mulai beralih ke aplikasi catatan Bear atau SimpleNote. Namun, data-data yang sudah menahun di Evernote belum mampu saya pindahkan. Pasalnya, saya belum menemukan aplikasi yang memang selengkap Evernote. Mudah-mudahan, dengan berjalannya waktu, ada aplikasi yang penyimpanan catatannya bisa selengkap aplikasi berlogo gajah tersebut dan ringan diajak jalan.

Tantangan lainnya terkait urusan Zoom dan Google Meet. Untuk Google Meet, saya cenderung menghindari, atau bahkan menolak untuk menggunakannya. Pasalnya, si Mba benar-benar kepayahan untuk menjalankannya. Terlebih, bila saya harus membuka aplikasi lain bersamaan dengan Google Meet.

Aplikasi Zoom sendiri lebih ringan. Saya masih bersedia untuk melakukannya bersama si Mba. Namun, bila harus menjalankan aplikasi lainnya secara bersamaan, saya cenderung angkat tangan. Terlebih, bila harus presentasi dan membuka browser bersama Zoom. Rasa-rasanya, hal ini perlu lebih banyak dihindari lantaran si Mba yang sudah mulai rempong untuk melakukannya.

Aspek Kedua, saya harus meluangkan ruang penyimpanan si Mba. Setidaknya, si Mba harus punya ruang penyimpanan kosong sebesar 30 Gigabyte. Di bawah itu, performanya cenderung memburuk. Dalam hal ini, saya harus mampu memilah dan memilih data dan aplikasi yang tersimpan di si Mba agar tidak semakin membuatnya ringkih.

Untuk urusan aplikasi, mereka yang berukuran besar dan jarang saya pakai terpaksa saya hapus. Bagaimana pun, aplikasi besar semacam ini akan memakan banyak memori ketika dijalankan. Pun karena jarang dipakai, artinya memang tidak terlalu diperlukan untuk bekerja dan beraktivitas. Barangkali, dulu menginstalnya hanya karena penasaran semata. Atau juga, memang aplikasi bawaan si Mba, seperti Garage Band untuk membuat lagu dan iMovie untuk menyunting video. Keduanya bawaan dari si Mba, jarang digunakan, serta memakan banyak memori dan ruang penyimpanan.

Bagi aplikasi yang kerap saya gunakan dan masih membutuhkan ruang penyimpanan besar, ini agak saya pilih-pilih. Bila saya sudah menemukan aplikasi alternatifnya, tentunya dengan senang hati saya hapus, seperti Adobe Reader. Namun, bila saya memang masih memerlukannya dan menjalankannya sesekali, ini masih saya pertahankan. Meskipun demikian, jumlahnya pun cukup sedikit dan tidak memakan banyak ruang penyimpanan.

Adapun urusan data, saya berusaha memindahkan data-data yang prioritas pemakaiannya rendah secara berkala. Selain itu, data-data yang ukurannya besar dan dipakai sesekali memiliki prioritas yang tinggi untuk dipindahkan. Hasilnya, si Mba kini punya ruang penyimpanan hingga 50 persen total penyimpanannya.

Adapun aspek ketiga, saya perlu memetakan aktivitas saya bersama si Mba. Untuk pekerjaan mengetik, membuat presentasi, dan menyusun website, saya masih bisa kerja denga si Mba. Namun, bila masuk urusan berat, seperti menyunting video dan bekerja dengan Google Docs, biasanya saya coba kurangi, atau bahkan hindari. Alasannya sederhana saja, karena si Mba memang sudah tidak sanggup lagi untuk melakukannya.

Saya juga mengurangi aktivitas bersama si Mba di luar ruangan. Salah satunya karena baterai si Mba sudah tidak berfungsi, sehingga tidak leluasa untuk dipindah-pindahkan. Saya pribadi bekerja dengan si Mba bila saya tetap diam di lokasi, setidaknya empat jam lamanya dan terdapat colokan listrik serta koneksi internet. Bila ketiga hal tersebut tidak terpenuhi, saya cenderung memilih menyimpan si Mba di kantong.

Alat kerja yang menua memang sebuah tantangan tersendiri bagi mereka yang lekat dengan media digital. Meskipun demikian, ada sisi positif dan pelajaran yang bisa saya ambil. Pertama, saya mulai perlu memfokuskan kompetensi diri. Rasanya, tidak perlu bercentil-centil ria untuk mencoba banyak aplikasi serta mulai mengerjakan hal-hal yang produktif dan bernilai.

Kedua, saya bisa leluasa berinteraksi dengan banyak orang bila jauh dari si Mba. Tentunya, hal ini berbeda bila si Mba selalu bisa nyala dan berpindah-pindah. Jadinya saya terus fokus dengan pekerjaan, atau mungkin tontonan yang menarik di Youtube.

Ketiga, saya punya waktu bekerja yang dibatasi dengan kinerja si Mba. Bila dia sudah ngos-ngosan, tentunya ini waktunya saya untuk beristirahat, ke luar rumah, atau baca buku yang perlu saya baca. Saya juga jadinya semakin banyak memindahkan aktivitas ke buku, seperti menulis atau menggambar sebuah skema. Sebuah penyegaran yang sudah cukup langka di masyarakat digital.***

Iklan

Menelusuri Cheng Ho, Menjejak Kelenteng Sam Poo Kong: Muslim, Tionghoa, dan Nusantara

Saya berfoto di depan patung Cheng Ho di Kelenteng Sam Poo Kong. (Foto: YudhaPS)

SEMARANG. Kota yang satu ini mengingatkan saya pada sosok pemimpin besar tionghoa yang beragama Islam, Laksamana Cheng Ho. Bagi saya yang keturunan tionghoa sekaligus muslim, beliau merupakan inspirasi untuk menelusuri jejak leluhur saya, khususnya dari garis tionghoa. Hal ini pula yang kemudian mendorong saya untuk mengunjungi Kelenteng Sam Poo Kong kala berlabuh di kota lumpia ini awal Maret silam.

Siang di Semarang membuat orang Bandung yang senang dengan udara dingin dan sejuk seperti saya langsung ciut untuk berwisata. Selepas shalat Jumat, godaan untuk menunggu agenda meeting selanjutnya di hotel yang adem semakin kuat. Namun, mengingat waktu kosong yang saya punya di Semarang hanya siang itu, akhirnya, saya benar-benar membulatkan tekad untuk meluncur ke persimpangan antara Jalan Pamularsih Raya dan Jalan Simongan di Bongsari, Semarang Barat, tempat kelenteng Sam Poo Kong berada. Di tempat ini, 600 tahun silam, konon Cheng Ho menyandarkan kapalnya dan menginjakkan kembali kakinya di tanah Jawa.

Dalam beberapa dasawarsa terakhir ini, Cheng Ho kembali menjadi perbincangan dan objek penelitian banyak orang, khususnya mereka yang tertarik dengan kemaritiman, globalisasi purba, dan kekaisaran Tiongkok. Pasalnya, sang laksamana dikenang sebagai pemimpin tujuh ekspedisi besar Dinasti Ming pada abad ke-15. Cheng Ho memimpin armada laut yang melibatkan lebih dari 200 kapal, termasuk 62 kapal di antaranya berukuran besar, dengan lebih dari 27 ribu awak. Dalam kurun waktu 1405 hingga 1433, armada laut besar Tiongkok ini menelusuri berbagai pelabuhan, kerajaan, dan kota-kota besar di antara Asia Tenggara hingga Afrika Timur, termasuk Semarang. Tujuannya sederhana: membangun hubungan baik dan memperkuat pengaruh kekaisaran Tiongkok di kancah global zaman itu.

Menariknya, Cheng Ho merupakan seorang muslim yang memimpin armada dari kekaisaran non-muslim. Dia berasal dari Kampung He Dai, Kabupaten Kunyang, Provinsi Yunan, dan lahir dengan marga dan nama Ma He. Cheng Ho berasal dari keluarga suku Hui, sebuah suku minoritas tionghoa yang mayoritasnya beragama Islam. Ketika dinasti berganti dari Yuan ke Ming, provinsi Yunan menjadi basis Raja Liang yang merupakan sisa-sisa dinasti sebelumnya. Hal ini membuat tentara dinasti yang baru menyerang dan merebut provinsi tersebut serta menawan anak-anaknya, termasuk Cheng Ho. Cheng Ho sendiri lalu dijadikan kasim atau pelayan pada usia 12 tahun dan kemudian diserahkan ke kaisar pertama Dinasti Ming Zhu Yuangzhang. Dia dijadikan pelayan putranya yang ke-empat bernama Zhu Di, yang kelak menjadi kaisar pula.

Sebagai pelayan terdekatnya, Cheng Ho banyak memanfaatkan fasilitas kekaisaran untuk belajar dan membangun keterampilannya. Dia juga turut mendampingi Zhu Di dalam perang perebutan kekuasaan kaisar selama tiga tahun dan menunjukkan prestasi gemilangnya dalam bidang kepemimpinan. Pada saat Zhu Di naik takhta, Cheng Ho dianugerahi marga dan nama baru: Zheng He atau yang lebih dikenal sebagai Cheng Ho. Dia juga diangkat sebagai kepala kasim intern yang bertugas membangun istana dan menyediakan berbagai kelengkapan di dalamnya. Ketika sang Kaisar menitahkan pelayaran ke Samudera Hindia, Cheng Ho sebagai kasim kesayangan sekaligus kepercayaan Zhu Di kemudian dipilih sebagai laksamananya.

Kawasan Wisata Kelenteng Sam Poo Kong, Semarang. Setiap pengunjung bisa masuk ke area ini dengan tiket seharga 10 ribu Rupiah. (Foto: Yudha PS)

Tak sampai 15 menit, saya dan seorang kawan sudah tiba di area parkir Kelenteng Sam Poo Kong dengan menggunakan Takol alias Taksi Online. Karena perut sudah meronta-ronta ingin diisi, akhirnya, kami memilih untuk makan siang terlebih dahulu sebelum berpetualang di area kelenteng. Kala itu, kami memilih santapan berupa soto ayam yang dijajakan di tenda pedagang kaki lima di area kelenteng. Tidak pernah dibayangkan sebelumnya, bahwa tempat saya makan siang itu merupakan sebuah muara besar pada 600 tahun lalu. Tak sampai seratus langkah ke arah selatan, konon Cheng Ho melabuhkan jangkar kapalnya dan membangun tempat peristirahatan sementara bagi salah satu perwira armadanya yang sakit parah dalam pelayarannya tersebut.

Siang itu, kami tidak hanya mendapatkan penganan yang mengenyangkan perut dan segelas minuman dingin dan segar. Dari ibu tua penjualnya serta anaknya yang sudah paruh baya, kami juga mendapatkan banyak cerita tentang area kelenteng yang sudah berusia 600 tahun tersebut: tentang siapa Cheng Ho di mata penduduk Semarang, tentang keempat kelenteng di dalamnya, dan juga tentang apa yang bisa dilakukan di dalam kelenteng tersebut, termasuk mitos-mitos yang melingkupinya. Rasanya, bekal dari warung soto ini cukup lengkap. Selain bekal energi dari nasi yang kami santap, juga ada bekal informasi yang perlu kami buktikan kebenarannya.

Segera, setelah urusan “adat” di warung soto selesai, kami berdua langsung menuju loket untuk membeli tiket seharga 10 ribu Rupiah untuk satu orang. Tiket tersebut berlaku hanya untuk kunjungan ke kawasan wisatanya di halaman kelenteng. Bila ada yang ingin masuk ke kawasan kelentengnya, pengunjung diwajibkan untuk membeli tiket tambahan sebesar 25 ribu Rupiah per orang. Namun, harga ini tidak berlaku untuk mereka yang hendak beribadah atau berkonsultasi dengan bio kong di kelenteng. Hal ini pula yang termaktub dalam arahan di warung soto sebelumnya. Teman saya langsung membeli sebungkus dupa dan beranjak ke area kelenteng. Dengan memperlihatkannya kepada petugas jaga yang dibubuhi beberapa kata-kata kunci, kami pun dipersilahkan masuk ke kawasan kelenteng tanpa harus membayar lebih.

Kawasan wisata sendiri merupakan area seluas lapangan bola dengan berbagai fasilitas pariwisata, termasuk: toilet, mushola, kios makanan dan souvenir, panggung, serta tak lupa patung Laksamana Cheng Ho dengan tinggi total setara gedung empat lantai, atau sekitar 12,7 meter. Umumnya, para pengunjung kerap berkumpul di depan patung Cheng Ho dan berfoto di depannya sebagai “bukti” kedatangannya ke Sam Poo Kong. Patung Cheng Ho tersebut baru dibangun pada awal millenium ketiga dengan tinggi 10,7 meter dan diresmikan pada tahun 2011 silam. Bentuk patungnya mengadopsi salah satu dari dua patung yang sudah ada pada ratusan tahun sebelumnya.

Sedangkan kawasan Kelenteng merupakan area sembahyang bagi penganut Konghucu. Letaknya persis di sebelah selatan kawasan wisata dan hanya dibatasi oleh pagar setinggi sekitar dua meter. Di dalam kawasan ini terdapat empat bangunan kelenteng, yaitu: Kelenteng Sam Poo Tay Djien yang di bangun di atas gua tempat Cheng Ho konon menetap selama beberapa hari, Kelenteng Dewa Bumi, Kelenteng Makam Kyai Juru Mudi, dan Kelenteng Mbah Kyai Jangkar. Selain membayar tiket tambahan, para pengunjung juga harus mentaati batasan di kawasan ini, termasuk melepaskan alas kaki di dalam kelenteng dan tidak boleh masuk ke area ibadah bila tidak bersembahyang.

Kawasan Kelenteng yang dikhususkan untuk area sembahyang bagi umat Konghucu. (Foto: Yudha PS)

Keberadaan kelenteng-kelenteng ini erat kaitannya dengan Wang Jinghong alias Ong King Hong alias Wang Sanbao, orang kedua setelah Cheng Ho dalam armada pelayaran besar kekaisaran Tiongkok kala itu. Dikisahkan, ketika tengah berlayar di laut utara Jawa, Wang sakit keras yang memaksa armada Cheng Ho berlabuh di Pantai Simongan, Semarang. Tak jauh dari tempatnya mendarat, para awak kapal menemukan gua untuk tempat beristirahat. Mereka pun membangun pondok kecil di luar gua sebagai tempat pengobatan bagi Wang. Setelah sepuluh hari membantu mengobati Wang, Cheng Ho melanjutkan perjalanan ke arah timur dan meninggalkan Wang bersama 10 awak dan sebuah kapal untuk menyusul.

Konon, setelah sembuh, Wang justru betah tinggal di Semarang dan menetap di kota tersebut. Dia kemudian membuka lahan perkebunan dan membangun rumah serta memanfaatkan kapal peninggalan laksamana Cheng Ho untuk berdagang di pantai tersebut. Para awak kapal pun menikah dengan penduduk setempat yang membuat kawasan tersebut menjadi ramai dan makmur. Akibatnya, semakin banyak orang Tionghoa yang datang dan menetap serta bercocok tanam di area tersebut. Wang Jinghong yang konon beragama Islam tersebut wafat pada usia 87 tahun dan dimakamkan tak jauh dari gua yang berjuluk Gedung Batu tersebut. Di dalam gua tersebut ditempatkan patung Cheng Ho untuk menghormati Sang Laksamana. Adapun area di sekitar gua tersebut berubah menjadi kelenteng yang kini dikenal sebagai Kelenteng Sam Poo Kong.

Meskipun kisah tersebut banyak beredar di kalangan masyarakat, tetapi Kong Yuangzhi yang menggelar penelitian sekaligus menulis buku tentang Cheng Ho menyangsikan cerita tersebut. Menurutnya, Wang Jinghong turut serta dalam lima pelayaran Cheng Ho dan memimpin armada ketujuh dari Samudera Hindia menuju Tiongkok setelah Cheng Ho wafat di India pada tahun 1433. Bila memang Wang benar-benar dimakamkan di Semarang, ada kemungkinan dia mengundurkan diri sebagai pejabat Dinasti Ming pada usia tuanya dan menyeberang kembali ke Jawa serta menetap di Gedung Batu hingga wafatnya. Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa Wang meninggal di laut kala memimpin ekspedisi ke Sumatera dan jenazahnya dimakamkan di Semarang.

Pendapat lainnya, Cheng Ho tidak pernah menginjakkan kaki ke Semarang, terlebih lagi ke Gedung Batu. Kemungkinannya, dia pernah mengirimkan detasemen armadanya ke Semarang untuk melakukan misi-misi tertentu. Pasalnya, dia pernah melakukan hal serupa dengan mengirimkan detasemen armada ke sejumlah daerah, seperti armada pimpinan Hong Bao ke Bengal dan armada pimpinan Ma Huan ke Mekah. Armada inilah yang barangkali mendarat di Pantai Samongan dan menetap di Gedung Batu serta meninggalkan dua patung Laksamana Cheng Ho di dalamnya. Patung pertama terbuat dari kayu cendana dengan wajah Cheng Ho yang masih berusia 30-40 tahunan. Adapun patung kedua terbuat dari porselen dengan wajah Cheng Ho yang lebih tua.

Jalan menuju gua yang konon menjadi tempat singgah pertama Cheng Ho dan awak kapalnya ketika Wang Jinghong sakit parah. Di atasnya dibangun kelenteng Sam Poo Tay Djien untuk mengenang sekaligus menghormati Cheng Ho. (Foto: Yudha PS)

Simpang-siurnya kisah ekspedisi Cheng Ho ini ditenggarai oleh konflik di dalam Dinasti Ming tentang pelayaran ke Samudera Hindia tersebut. Setengah abad setelah Cheng Ho wafat pada masa Kaisar Zhu Youcheng, bendahara Liu Daxia beserta sebagian pembesar istana memandang bahwa pelayaran Cheng Ho gagal dan kerugiannya lebih besar dari keuntungannya bagi kekaisaran Tiongkok. Golongan ini kemudian berhasil membakar sebagian besar arsip pelayaran Cheng Ho beserta catatan silsilah keluarga sang laksamana. Padahal, Cheng Ho ditemani oleh Ma Huan dan Fei Xin yang merupakan pencatat perjalanan yang cukup cermat dalam pelayaran tersebut.

Kembali ke Semarang. Masyarakat Tionghoa di Semarang sendiri sangat menghormati Cheng Ho dan membangun Kelenteng Sam Poo Kong untuk menghormati beliau. Mulanya, bentuk kelentengnya sangat sederhana berupa gua dengan patung Cheng Ho di dalamnya. Namun, sejak kelenteng berbentuk gua tersebut runtuh pada tahun 1704 akibat angin ribut dan hujan lebat, masyarakat Tionghoa di Semarang pun memugarnya pada tahun 1724. Pada tahun 1938, bangunan kelenteng bertambah luas setelah dipugar oleh Oei Tiong Ham yang terkenal dengan julukan “Raja Gula” di Indonesia. Adapun bangunan kelenteng hari ini merupakan hasil pemugaran tahun 2002 yang selesai tiga tahun kemudian.

Melihat kelenteng-kelenteng tersebut, saya jadi teringat tradisi umat Hindu di Bali. Umumnya, mereka membangun pura di dekat objek tertentu sebagai bentuk penghormatan kepadanya, umumnya kepada alam. Misalnya saja, mereka membangun pura di sungai untuk menghormati sungai agar airnya tetap bersih, atau membangun pura di sekitar mata air untuk menghormati mata air agar alirannya tetap mengalir. Tampaknya, hal yang sama juga berlaku untuk masyarakat Tionghoa. Mereka membangun kelenteng untuk menghormati objek-objek tertentu.

Sam Poo Kong sendiri merupakan kelenteng untuk menghormati empat hal. Kelenteng Dewa Bumi dibangun agar umat Konghucu bisa bersyukur kepada Dewa Bumi yang telah memberikan tanah yang subur dan hasil panen yang melimpah. Adapun Kelenteng Juru Mudi ditujukan untuk menghormati Wang Jinghong yang dipercaya telah membuka daerah Simongan, sehingga menjadi kawasan yang hidup dan makmur. Di tempat ini pula terdapat makam Wang Jinghong di sekitar altar kelenteng. Saya sendiri baru mengetahuinya setelah sampai di Bandung, sehingga tidak sempat untuk menengok makam tersebut. Dari kisah-kisah yang saya dapatkan di internet, nisan makam tersebut seperti layaknya makam seorang muslim dan menghadap ke kiblat di sebelah barat.

Sedangkan Kelenteng Sam Poo Tay Djien dibangun di atas gua yang konon pernah menjadi tempat beristirahatnya Cheng Ho dan para awak kapalnya kala menemani Wang Jinghong yang sakit keras. Di kelenteng ini terdapat jalan masuk ke bawah untuk menuju gua ini. Di dalamnya, terdapat sumber air yang selalu mengalir sepanjang tahun. Di sisi barat laut kelenteng ini dibuat gua baru untuk menempatkan patung Cheng Ho beserta dua pengawalnya: Lauw Im dan Thio Kee. Di dinding bagian luarnya, terdapat diorama perjalanan Cheng Ho yang memanjang dari ujung selatan ke ujung utara Kelenteng Sam Poo Tay Djien. Sam Poo Tay Djien, atau disebut juga San Bao Tai Jian dalam bahasa Mandarin, berarti Kasim San Bao. San Bao sendiri merupakan nama alias Cheng Ho yang menunjukkan posisinya sebagai kasim intern di lingkungan istana kaisar. Nama ini juga disematkan kepada Wang Jionghong, Sang Juru Mudi, yang membuatnya juga dikenal sebagai Wang San Bao. Anthony Hocktong Tjio, seorang pengamat sejarah, berpendapat bahwa San Bao atau Sam Poo merupakan asal nama komplek kelenteng ini yang berarti “Bapak”. Namanya pun bukan merujuk kepada Cheng Ho, tetapi justru mengambil dari Wang Jionghong. Ketika disematkan dengan kata Kong yang merupakan panggilan hormat dan berarti “Yang Mulia”, nama Sam Poo Kong menurut Anthony berarti “Bapak Yang Mulia”.

Kelenteng Sam Poo Kong merupakan muara yang besar pada sekitar tahun 900 hingga 1600. Di muara inilah kapal Cheng Ho mendarat dan menemukan sebuah gua tak jauh dari tempatnya berlabuh. (Peta: Semaran.nl)

Kelenteng terakhir berjuluk Kelenteng Mbah Kyai Jangkar. Sesuai namanya, di tempat ini terdapat jangkar yang konon berasal dari salah satu kapal besar Cheng Ho. Ukurannya setinggi orang dewasa dan terbuat dari baja yang sangat kokoh. Menurut biokong di kelenteng ini, jangkar tersebut ditemukan beberapa meter di depan gedung kelenteng dalam posisi tertanam di tanah. Awalnya, saya tidak percaya dengan keterangan biokong tersebut. Pasalnya, jarak Kelenteng Sam Poo Kong ke laut sekitar 6 Kilometer jauhnya. Namun, pandangan saya berubah ketika saya menemukan peta Semarang tahun 900-1600 di situs Semarang.nl. Di peta tersebut, area Sam Poo Kong pada tahun 1400-an tepat terletak di muara yang sangat besar dan bisa dimasuki kapal besar. Kala itu, jarak ke laut masih sekitar 1-2 Kilometer. Seiring pendangkalan laut utara Jawa, muara pun berangsur-angsur mengecil dan meninggalkan sebuah sungai yang kini berjuluk Banjir Kanal Barat Semarang. Adapun bibir pantai laut utara Jawa menjauh jaraknya hingga 4-6 Kilometer.

Sebagai sebuah situs bersejarah, bagi saya Kelenteng Sam Poo Kong minim narasi historis. Saya hampir tidak menemukan banyak keterangan tentang Cheng Ho selain di bawah patung yang terletak di halaman kelenteng dan diorama sang laksamana di dinding luar gua yang baru di Kelenteng Sam Poo Tay Djien. Adapun keterangan sejarah yang saya tuliskan dalam catatan ini, berasal dari buku Muslim Tionghoa Cheng Ho: Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara terbitan Pustaka Populer Obor yang ditulis oleh Kong Yuanzhi dan disunting oleh Hembing Wijayakusuma. Pihak kelenteng sendiri sebenarnya menyediakan pemandu wisata untuk mendampingi wisatawan guna menyelami lebih dalam Kelenteng Sam Poo Kong lewat narasi historis. Hanya saja, pengunjung perlu menyewanya dengan sejumlah dana.

Berbicara tentang Cheng Ho yang muslim, banyak pihak meyakini bahwa sosok ini punya jasa besar dalam menyebarkan Islam di Nusantara. Kunjungannya ke Sumatera dan Jawa sebanyak enam kali diikuti dengan catatan Ma Huan tentang meningkatnya jumlah Tionghoa Muslim sekaligus masjid di pesisir pantai yang dilaluinya. Dari Wikipedia, saya juga menemukan informasi bahwa Cheng Ho pernah membawa serta dalam pelayarannya dari Campa ke Nusantara dua sosok yang punya kontribusi besar dalam penyebaran Islam di Jawa, yaitu: Syekh Quro dan Syekh Nurjati. Syekh Quro sendiri turun dan menetap di Karawang, sedangkan Syekh Nurjati turun dan menetap di Cirebon. Keduanya kemudian aktif menyebarkan Islam di Jawa Barat. Syekh Quro sendiri merupakan salah satu pelopor era Wali Songgo.

Patung Cheng Ho yang ada di Kawasan Wisata Kelenteng Sam Poo Kong. Patung perunggu ini memiliki tinggi total 12,7 meter dan diresmikan pada tahun 2011. (Foto: Yudha PS)

Meskipun demikian, tidak ada catatan dari Ma Huan yang muslim tentang upaya Cheng Ho dalam menyebarkan Islam, khususnya di Nusantara. Sebagian pengamat melihat bahwa Cheng Ho melakukan ekspedisi pelayaran tersebut dengan misi utama membangun hubungan diplomasi antara Tiongkok dan kerajaan-kerajaan di Samudera Hindia. Oleh karena itu, wajar saja bila kemudian Ma Huan tidak memprioritaskan catatan tentang aktivitas Cheng Ho dalam memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat yang ditemuinya. Adapun dalam catatan Fei Xin tidak menyinggung sama sekali tentang kaum muslim di tempat-tempat yang dikunjunginya.

Jejak masyarakat Tionghoa Muslim pun cenderung hilang dalam jejak peradaban di Nusantara, khususnya di Jawa dan Sumatera. Kemungkinan besar, mereka memilih untuk berbaur dan menikahi pribumi serta meninggalkan identitasnya ketionghoaannya. Hal ini seperti yang terjadi di Semarang sekitar abad ke-15. Masyarakat Tionghoa Muslim didorong untuk membaurkan diri dengan masyarakat Jawa dan memakai nama serta cara kehidupan orang Jawa. Wajar saja bila kemudian masyarakat Tionghoa yang non-muslim lebih menonjol karena cenderung mempertahankan identitasnya, bahkan hingga saat ini.

Petang mulai menjelang, dan hujan mulai datang. Saya dan seorang kawan harus segera berangkat menuju agenda meeting selanjutnya. Dan rasanya, berbicara tentang Tionghoa dan Muslim serta Nusantara, memang tidak akan tuntas hanya dengan menelusuri jejak Cheng Ho seorang. Pun menggali tentang Cheng Ho, tidak akan pernah selesai hanya dengan berkunjung ke Kelenteng Sam Poo Kong semata. Namun, dari mengunjungi Kelenteng Sam Poo Kong dan menelusuri riwayat Cheng Ho, saya semakin sadar, bahwa perjalanan menggali hubungan tentang Tionghoa, Muslim, dan juga Nusantara masih teramat jauh. Barangkali, sejauh tujuh ekspedisi lautan sang laksamana.***

Merentang Perjuangan Pembebasan Perbudakan di Amerika Serikat

Patung Martin Luther King Jr. yang terletak di National Mall, Washington DC, Amerika Serikat. (Foto: Yudha PS)

I have a dream that one day this nation will rise up and live out the true meaning of its creed: “We hold these truths to be self-evident, that all men are created equal.”

Petikan pidato Martin Luther King Jr. tersebut membahana di hadapan 250 ribu orang pendukung hak asasi manusia di Washington DC pada 28 Agustus 1963. Kala itu, Martin tengah menyuarakan keresahannya tentang rasisme yang berlangsung di Amerika, khususnya pada perbedaan warna kulit. Warga Afro-Amerika ditempatkan sebagai warga kelas dua.

Perjuangan persamaan hak manusia di Amerika sudah berlangsung sepanjang berdirinya negara tersebut, sejak mereka mengumandangkan kemerdekaannya hingga wafatnya George Floyd pada akhir Mei lalu. Hanya saja, perjuangan tersebut selalu menemui jalan terjal, berkelok, dan berkerikil tajam.

Ide berdirinya Amerika sendiri dipicu oleh jengahnya 13 negara koloni terhadap kesewenang-wenangan Inggris di daratan Amerika. Mereka memulai revolusi bersenjatanya pada rentang waktu 1775 hingga 1783. Adapun deklarasi kemerdekaan berhasil dirumuskan pada 4 Juli 1776 dengan konstitusinya mengalami 27 amandemen hingga saat ini. Sepuluh amandemen pertama di antaranya terkait hak asasi manusia.

Amerika sendiri berbeda dengan negara kesatuan seperti Indonesia. Pada awalnya, ada beberapa “negara” di bawah koloni Inggris yang kemudian bersatu membentuk negara baru. Pemerintahan Nasional, yang dikenal juga dengan julukan Pemerintahan Federal, dipimpin oleh seorang Presiden. Dalam hal ini, presiden merupakan “pelayan” bagi negara-negara bagian yang ada di Amerika dan fokus kepada kebijakan nasional dan luar negeri.

Hanya saja, presiden dan pemerintah federal tidak berhak untuk mendikte kebijakan yang ada di setiap negara bagian. Oleh karena itu, kita kerap menemui banyak negara bagian yang memiliki kebijakan yang berbeda satu sama lain pada isu yang sama. Misalnya saja, ketika saya ke sana pada 2013 silam, kebijakan legalnya ganja baru diresmikan di tiga negara bagian. Di luar negara bagian tersebut, mereka yang kedapatan membawa ganja bisa jadi diproses secara hukum.

Di sisi lain, ide hak asasi kemanusiaan sudah menggaung di ranah publik Amerika beberapa tahun sebelum kemerdekaan negara tersebut tercapai. Pada 1774 misalnya, Thomas Paine, teoris politikal radikal datang ke Amerika dan mempublikasikan risalah berjudul Common Sense yang mengkritik pemerintahan monarki dan mendorong kemerdekaan dan kemandirian. Bahkan, karya John Locke berjudul Second Treatise on Government yang terbit pada abad sebelumnya masuk ke dalam pembuka deklarasi kemerdekaan Amerika, khususnya soal semua manusia diciptakan sederajat sekaligus dianugerahi dengan hak-hak yang tidak dapat dihapuskan.

Dalam peradaban barat kala itu, Amerika termasuk negara yang “beda sendiri”. Pasalnya, kala negara barat lainnya berlomba-lomba untuk memperkokoh segregasi kelas sosial dan menaklukan dunia baru, Amerika justru hadir dengan ide sebagai negara yang terbuka dan merdeka sekaligus setara untuk semua suku, agama, dan ras. Ide inilah yang kemudian banyak menuai pujian serta dukungan dari banyak warga Eropa yang memiliki pandangan serupa.

Perjuangan Amerika untuk bebas dan merdeka turut menjadi narasi pidato presiden Soekarno kala menggaungkan kebebasan bangsa Asia-Afrika. Pada pembukaan Konperensi Asia-Afrika pada 1955 silam, Soekarno mengutip kisah Paul Revere dan pemulaan perang kemerdekaan Amerika. “Perang anti kolonial yang untuk pertama kali dalam sejarah mencapai kemenangan,” ucap Soekarno dalam pidato bertajuk Let a New Asia and a New Africa be Born!.

Hanya saja, ide kesetaraan dan kemerdekaan yang digagas oleh para pendiri Amerika masih jauh dari ideal. Konflik tidak hanya berlangsung secara psikologis, tetapi juga secara fisik. Tengoklah perang saudara yang berlangsung pada 1861-1865 di Amerika yang membelah negara tersebut menjadi dua bagian: utara dan selatan, pejuang pembebasan budak melawan pendukung perbudakan. Selama 4 tahun, 10 ribu lebih pertempuran terjadi dengan 50 perang di antaranya termasuk dalam kategori besar dan 100 perang lainnya termasuk kategori signifikan. Tiga juta lebih serdadu terlibat di kedua belah pihak dan 620 ribu orang di antaranya gugur. Puncaknya, Abraham Lincoln yang menjadi presiden Amerika kala itu juga gugur lantaran dibunuh oleh pihak selatan.

Selepas perang besar tersebut, perjuangan bangsa Amerika untuk menjadi negara yang terbuka dan setara bagi semua orang masih harus menemui banyak rintangan. Segregasi sosial antara kulit putih dan kulit berwarna masih terjadi di berbagai sudut wilayah Paman Sam. Hanya saja, sejalan dengan fenomena tersebut, semakin banyak pula orang yang berjuang untuk menegakkan kesetaraan hak di Amerika. Bahkan, beberapa di antaranya harus rela menjadi martir, termasuk: Abraham Lincoln dan Martin Luther King Jr.

Salah satu sudut Martin Luther King Jr. Memorial yang menyajikan petikan-petikan pidato I Have a Dream. (Foto: Yudha PS)

Meskipun perjuangan belum usai, perlahan tapi pasti, Amerika berjalan ke arah yang sama dengan harapan para bapak bangsanya. Bangsa Afro-Amerika mulai menempati posisi istimewa dalam kehidupan sosial mereka. Hal ini tampak dari berdirinya museum African-American di kompleks National Mall di Washington DC pada 2016. Bagi bangsa Amerika, museum di pusat pemerintahan Amerika merupakan simbol pengakuan bangsa Amerika terhadap sebuah isu, dalam hal ini soal bangsa Afro-Amerika.

Pengakuan lainnya tampak dari berdirinya Martin Luther King Jr. Memorial di komplek National Mall seluas 1,6 hektar pada 2011 silam. Tugu ini terletak dan sejajar di antara Lincoln Memorial dan Thomas Jefferson Memorial. Bagi masyarakat Amerika, ketiga memorial tersebut berjuluk “Garis Kemanusiaan”. Pasalnya, ketiganya merupakan tokoh sekaligus pejuang persamaan hak manusia di Amerika.

Dan tentunya, pengakuan terbesar Amerika terhadap bangsa Afro Amerika kala dilantiknya Barack Obama sebagai presiden pada 2009 silam. Presiden ke-44 Amerika tersebut merupakan presiden Amerika pertama dari kalangan bangsa kulit berwarna.

Kesadaran terhadap kesetaraan hak juga mulai tampil dalam ruang-ruang media populer, khususnya pada abad ke-21 ini. Tengoklah film-film produksi Amerika yang mengangkat kisah para tokoh kulit berwarna untuk meraih persamaan haknya kala masa segregasi sosial di Amerika. Bahkan, beberapa di antaranya termasuk film-film yang banyak menarik perhatian publik Amerika. Hal ini merupakan pertanda bahwa masyarakat negeri Paman Sam mulai menginternalisasi perjuangan pembebasan perbudakan dan kesetaraan hak kemanusiaan sebagai bagian dari diri mereka.

Lantaran internalisasi kesadaran inilah yang juga turut memicu demo besar-besaran di Amerika selepas wafatnya George Floyd. Sebagai martir, dia telah menggugah sebuah bangsa yang majemuk untuk menegakkan kembali cita-cita para pendiri Amerika pada 1776 silam. Sebuah cita-cita untuk menegakkan nilai-nilai kesetaraan dan penghormatan kepada manusia. Sebuah nilai universal yang selalu digaungkan oleh banyak agama di dunia: melawan perbudakan serta membangun diri yang bebas dan merdeka.***

Tulisan ini dipublikasikan pertama kali di Harian Umum Pikiran Rakyat pada Sabtu, 6 Juni 2020

Kelor, Si Tanaman Multi-Nutrisi

Sepiring Nasi Kelor yang dilengkapi dengan batagor goreng a la Bandung. (Foto: Yudha PS)

Ini penganan saya setiap hari selama lebih dari sebulan terakhir ini: rebusan kelor + batagor + nasi. Sejak penduduk kota Bandung dihimbau untuk diam di rumah, menu tersebut jadi santapan kami pada setiap waktu makan: sarapan, makan siang, dan juga makan malam.

Tanaman kelor sendiri sudah tumbuh di pekarangan rumah saya selama 3 tahun terakhir ini. Dari sekian batang kelor yang saya tancapkan tahun 2017 silam, alhamdulillah, satu tanaman mampu bertahan hidup dan menjulang ke angkasa. Saat ini, tingginya sudah setara bangunan dua tingkat.

Saya cukup terpesona dengan kandungan tanaman ini. WHO menobatkan tanaman berjuluk Moringa ini sebagai “senjata” untuk menanggulangi gizi buruk di dunia, khususnya di benua Afrika. Nutrisinya terbilang kaya bila dibandingkan gabungan penganan penting yang kerap kita temui dalam keseharian. Beberapa di antaranya: kalsium setara 17 kali susu, potasium setara 15 kali pisang, vitamin E setara 7 kali ragi, vitamin C setara 7 kali jeruk, vitamin A setara 4 kali wortel, serat setara 4 kali gandum, asam amino setara 1,5 kali telur, protein setara 2 kali yoghurt, serta zat besi setara 9 kali bayam.

Khasiat lainnya, kelor dipercaya mampu menyembuhkan beberapa sakit yang tergolong berat, seperti kanker. Seorang kawan pernah bercerita bahwa dia menyuruh koleganya yang penyandang kanker stadium awal untuk mengkonsumsi kelor secara rutin. Sang kolega kawan saya pada saat itu mendapati benjolan di payudaranya. Setiap pagi, dia pun memakan lalapan daun kelor segar yang dipetik langsung dari halaman rumahnya. Tiga bulan kemudian, benjolan di payudara kolega kawan saya itu pun mengecil dan hilang.

Meski sudah menghuni halaman rumah kami bertahun-tahun, hanya saja saya benar-benar baru mengkonsumsi tumbuhan multi-nutrisi ini setiap hari sejak pertengahan Maret lalu. Kala itu, saya mengalami demam dan flu berat bersamaan dengan liburnya sekolah di Bandung dan ramainya isu Corona di tatar Parahyangan. Sejak saat itu pula, saya pun giat menyantap kelor sebanyak mungkin. Selain untuk memulihkan kondisi tubuh, panganan ini juga diharapkan bisa menjaga stamina badan saya.

Sebelumnya, saya biasa melahap kelor bersamaan dengan mie goreng instan. Bumbu mie instan membantu memperkaya rasa kelor menjadi lebih gurih dan sedap disantap. Di luar itu, sesekali saya mencemil daun kelor secara langsung. Itu pun sangat jarang dan biasanya karena tubuh benar-benar butuh nutrisi yang cukup banyak.

Kembali ke piring saya. Di tengah pandemi Corona seperti saat ini, kelor membantu kami menyuguhkan hidangan yang semurah mungkin sekaligus menyehatkan nan kaya nutrisi. Satu-satunya yang perlu kami usahakan hanyalah nasi yang belum mampu kami tanam mandiri. Cara mengolah kelornya pun cukup sederhana: rebus dengan air dalam beberapa menit kemudian tiriskan dan sajikan. Bila pun ada lauk lainnya, fungsinya hanya untuk memanjakan lidah agar rasanya tidak terlalu hambar dan tawar. Dalam hal ini, kami menggunakan batagor buatan sendiri.

Kelebihan lainnya, budidaya kelor cukup mudah. Hanya dengan menancapkan bagian batangnya, tumbuhan ini akan bertunas dalam beberapa hari dan membesar beberapa bulan kemudian. Syaratnya, jaga kelembaban dan cahaya mataharinya. Dalam rentang waktu tersebut, kita sudah bisa memetik hasilnya untuk santapan satu keluarga kecil setiap hari.

Bagaimana dengan kawan2 semua? Apa penganan pada periode #dirumahaja seperti saat ini?***

Arisan Ayam

Para orang tua Joni kala mereka baru saja beradaptasi dengan dinginnya udara Bandung. (Foto: Yudha PS)

Masih ingat ayam saya berjuluk Joni beserta saudara-saudaranya? Obrolan soal Joni ini ternyata menggugah diskusi panjang di rumah kami, Kebun Madani. Di satu sisi, kami berencana untuk menjadikan Joni sebagai bagian dari penyokong pendapatan keluarga. Namun, di sisi lain, ada banyak tantangan yang ketika dijabarkan ke atas kertas, menghasilkan profit negatif. Dengan kata lain, berbisnis ayam kampung akan cukup merugikan kami saat ini.

Meskipun demikian, saya masih penasaran dengan masa depan Joni dan saudara-saudaranya. Terlebih, saya cukup tertarik untuk menjadikan dia bagian dari solusi sosial di masyarakat perkotaan modern di Indonesia.

Ketika adu-gagasan sudah mulai mentok, tiba-tiba saja terpikir untuk mengajak Joni dan saudara-saudaranya ke arisan. Yah, arisan yang masing-masing pesertanya harus menyetor sesuatu dan secara bergiliran mendapatkan sesuatu juga. Bedanya, kali ini setoran peserta berupa makanan sisa di rumahnya, dan hasilnya berupa seekor ayam kampung hidup yang silahkan sembelih sendiri-sendiri.

“Arisan Ayam”, begitu istilah yang kemudian muncul.

Seperti sudah saya ceritakan di kisah saya sebelumnya, saya memelihara ayam kampung untuk membersihkan halaman rumah saya dari rumput liar. Ternyata, ayam-ayam saya juga menyajikan solusi bagi permasalahan sampah perkotaan: sampah organik. Mereka senang sekali menyantap nasi-nasi sisa dari tetangga saya.

Ternyata, ada juga tetangga yang senang hati memberikan sisa makanan yang tidak tersantap oleh mereka di luar nasi bekas, termasuk di dalamnya: daging, sisa telur, tempe, dan sayuran. Di luar dugaan, ayam-ayam saya sangat menggemari makanan-makanan tersebut, termasuk daging dan sisa telur. Mereka dengan lahap menyantapnya hingga tak bersisa. Tentunya, fakta ini membuat kami membuka peluang menerima berbagai sampah organik, tanpa terkecuali.

Selama ini, para tetangga memberikan sampah-sampah itu secara cuma-cuma, tanpa ada beban. Namun, bagaimana bila para tetangga memang “berkewajiban” untuk menyetor sampah-sampah organik itu kepada kami? Dan setelah beberapa bulan, kami menghadiahkan seekor ayam kampung untuk mereka santap sekeluarga.

Kami sendiri belum berani buka-bukaan ke tetangga kami soal ini. Tantangan terbesar yang harus kami jawab terkait Tingkat Harapan Hidup (THH) ayam-ayam kami. Sejauh ini, Joni dan saudara-saudaranya memiliki angka THH mencapai 100 persen. Namun, generasi sebelumnya angka THH-nya sangat rendah, sekitar 21,5 persen. Meskipun kami sudah memperbaiki sistem pemeliharaannya agar THH-nya mencapai 100 persen, tapi kami belum berani menjaminnya hingga Joni dan generasinya selamat hingga ke perut penyantapnya.

Tantangan lainnya terkait pakan pabrikan untuk ayam-ayam muda yang baru menetas. Untuk menekan tingkat mortalitas, kami memang menyuguhkan panganan tersebut untuk unggas berusia di bawah 30 hari. Tentunya, kami harus membelinya secara berkala di toko ternak dengan menyetorkan sejumlah uang. Solusinya, berarti kami harus menyisakan ayam-ayam yang memang untuk dijual. Dana hasil penjualan inilah yang kemudian bisa digunakan untuk membiayai pakan pabrikan berikut fasilitas-fasilitas pendukungnya.

Dari dua tantangan tersebut, selanjutnya kami perlu mengkalkulasikan jumlah ideal peserta arisan, jumlah ideal ayam hingga panen, dan kuantitas ideal penganan per harinya. Rasio ideal ini diharapkan bisa membuat peserta arisan senang, ayam-ayam sehat, dan sampah organik pun berkurang.***

Syarif Hidayat, Ventilator, dan Three Idiots

Mas Syarif Hidayat, sosok di balik Vent-I. Berangkat dari pasion-nya di bidang elektro dan engineering, mas Syarif berusaha berkontribusi kepada negeri berdasarkan kompetensinya. (Foto: Disway.id)

Hari ini, Dahlan Iskan menulis soal mas Syarif Hidayat yang membuat ventilator untuk penyandang COVID19. Menariknya, Ventilator ini terbuat dari bahan-bahan yang ada di pasaran. Kabar baiknya, strategi ini membuat harga Ventilatornya menjadi sangat terjangkau. Meskipun demikian, mas Syarif tetap menerapkan produser kesehatan yang ketat.

Membaca tulisan tersebut, pikiran saya langsung terbang ke film India berjudul Three Idiots (2009) besutan sutradara Rajkumar Hirani. Film bergenre drama-komedi ini berkisah tentang seorang genius engineer bernama Rancho yang diperankan oleh Aamir Khan. Tingkah Rancho termasuk yang di luar kebiasaan publik pada umumnya. Cara berpikirnya sangat out-of-the-box sekali dan menjunjung tinggi prinsip bahwa setiap orang memiliki talenta yang unik.

Rancho sendiri memiliki passion di bidang engineering. Pada masa awal-awal kuliah, dia sangat senang membuka-tutup barang-barang elektronik di asrama di kampusnya. Tak jarang, beberapa barang di antaranya tak terpasang dengan benar dan membuat kehebohan di asramanya.

Pendek kata, menjelang akhir film, Rancho dan teman-temannya terdesak dengan kondisi kritis. Kota dilanda banjir besar. Anak profesor yang tengah hamil besar, berada dalam keadaan kritis dan harus melahirkan segera. Naas, anak sang profesor terjebak banjir di lingkungan kampus.

Tak ada jalan lain, Rancho beserta teman-temannya membawa anak profesor ke laboratorium untuk melakukan proses persalinan darurat. Di ujung lainnya, tersambung kekasih Rancho yang seorang dokter guna membimbing para mahasiswa engineering tersebut untuk menyelamatkan sang bayi agar berhasil dari perut ibunya dalam keadaan hidup.

Mendadak, listrik mati. Rancho langsung memimpin kawan-kawannya untuk mengumpulkan aki mobil di sekitar kampus dan menyusunnya guna menyuplai kebutuhan listrik di laboratorium. Tak seberapa lama, listrik darurat pun menyala dan proses persalinan pun mulai digelar.

Tak dinyana, kondisi anak sang profesor tidak mampu melaksanakan proses persalinan secara normal. Mereka membutuhkan alat khusus untuk membantu jalannya persalinan dan menyedot sang bayi agar bisa keluar dari rahim ibunya.

Dengan bahan-bahan seadanya, Rancho dan kawan-kawannya memutar otak untuk membuat alat yang dimaksud tersebut. Sang kekasih memberikan deksripsi tentang alat tersebut dari ujung sambungan internet. Dengan memodifikasi vacum-cleaner dan beberapa perangkat yang ada di laboratorium, akhirnya mereka bisa menciptakan alat tersebut dalam hitungan menit dan mengeluarkan sang bayi.

Mental Rancho dan kawan-kawan inilah yang sebenarnya diperlukan oleh Indonesia dan dunia saat ini. Rasanya, kita bisa melihatnya di sosok mas Syarif yang kerap dijuluki “dewa petir” di bilangan Jalan Ganesha Bandung lantaran kepiawaiannya dalam bidangnya tersebut.

Dari tulisan Dahlan Iskan tersebut dan refleksi film Three Idiots di atas, saya jadi belajar bahwa orang-orang yang bekerja atas dasar passion kerap memunculkan solusi pada saat-saat krisis. Dalam hal ini, kita bisa melihat bagaimana mas Syarif yang seorang pakar sekaligus punya minat yang cukup tinggi di bidang elektro dan kemanusiaan menawarkan solusi yang berangkat dari bidangnya.

Apa yang beliau lakukan seperti mengingatkan kita bahwa masing-masing orang punya peran yang sangat unik sekaligus strategis dalam kehidupan di dunia. Peran tersebut sangat terasa kala masa-masa krisis seperti saat ini. Ketika banyak orang sibuk mengurusi dan berkicau tentang hal-hal yang jauh di luar bidang dan talentanya, kita beruntung ada orang-orang seperti mas Syarif yang justru merefleksikan fenomena coivd-19 kepada dirinya sendiri dan passion-nya selama ini. Hasilnya, dia berusaha berbuat sesuai dengan kompetensinya dan melahirkan Vent-I.

Sama seperti Rancho yang tak habis akal, mas Syarif juga menyusun ventilator darurat ini dari perangkat seadanya yang marak dijajakan di pasaran publik. Semoga, hasil tes alat ini oleh pihak yang berwenang memberikan kabar baik bagi para pasien covid-19 di Indonesia, dan mudah2an juga di dunia.***

Pengurai Sampah Organik Itu Berjuluk Joni

Joni yang tengah merumput bersama saudara-saudaranya. (Foto: Yudha PS)

Ini Joni (bukan nama sebenarnya), ayam saya. Joni merupakan satu dari 20 bersaudara yang menetas sepanjang tahun 2020 d rumah saya. Usianya, kini sudah 3 bulan lewat 3 hari. Bersama 19 saudaranya, Joni gemar merumput di halaman rumah saya. Biasanya, mereka rajin mengorek-ngorek tanah untuk mencari cacing atau serangga yang hidup di dalamnya. Sering pula, mereka memakan rumput-rumput pekarangan. Sedikit demi sedikit, lama-lama halaman rumah saya bersih dari rumput.

Saking rajinnya Joni dan saudara-saudaranya, bahkan bibit-bibit tanaman sayuran dan buah-buahan yang saya tanam di halaman rumah turut mereka bersihkan. Di satu sisi, bikin saya gemes. Di sisi lain, saya berterima kasih karena Joni dan saudara-saudaranya melakukan tugasnya dengan baik.

Joni, saudara, juga orang tuanya sudah hampir setahun tinggal di rumah kami. Alasannya sederhana saja: supaya halaman kami bersih dari rumput. Karena, pada dasarnya, saya ini orangnya pemalas. Dan seperti banyak pemalas lainnya, saya berusaha untuk membangun sesuatu yang otomatis dapat menyelesaikan permasalahan di sekitar saya. Bahasa kerennya: membangun sistem. Dan Joni merupakan salah satu perangkat uji-coba sistem saya.

Di luar dugaan, Joni dan saudaranya bukan hanya membersihkan rumput semata. Lantaran mereka tidak cukup kenyang dengan rumput dan cacing, membuat kami harus putar otak untuk menyuguhkan hidangan yang murah, meriah, dan mengenyangkan. Dan pilihan itu jatuh pada nasi sisa dan makanan bekas.

Di rumah, kami memang menerapkan aturan bahwa panganan sebisa mungkin harus dimakan habis. Meskipun demikian, ada saja yang tersisa, seperti: kerak nasi pada rice cooker atau makanan yang telat dihangatkan dan terlanjur basi. Jenis makanan inilah yang kemudian kami hidangkan kepada Joni dan saudara-saudaranya.

hanya saja, rumah kami tidak cukup menghasilkan “sampah” untuk memberikan kecukupan gizi bagi mereka. Alhasil, kami pun mencoba bergerilya dengan mengetuk “pagar maya” tetangga kami untuk mencari nasi sisa dan makanan bekas. Alhamdulillah, banyak tetangga kami yang bersemangat untuk memberikannya kepada kami. Bahkan, beberapa di antaranya sampai rela mengantarkannya ke kediaman kami secara rutin.

Tentu, saya bersyukur bahwa tetangga kami orang-orang yang baik hati. Mereka sangat peduli dengan Joni dan banyak membantu memenuhi kecukupan gizi ayam-ayam saya sekeluarga. Hanya saja, lebih dari itu, saya jadi berpikir suplai nasi sisa dan makanan bekas ini justru membawa dampak positif bagi lingkungan.

Kerap kali, barang-barang berjuluk “sampah organik” tersebut harus teronggok di tempat sampah. Para pegawai kebersihan kemudian mengangkutnya ke tempat pembuangan akhir dan bercampur dengan sampah non-organik. Hasilnya, bau busuk yang menyengat dan berujung pada menumpuknya gas metan di atmosfir. Dampaknya, pemanasan global semakin cepat dan membuat bumi semakin parah.

Meskipun kecil, tetapi nasi sisa dan makanan bekas yang masuk ke halaman kami menjadi sesuatu yang berharga, setidaknya bagi Joni dan saudara-saudaranya. Meskipun mereka tidak pernah berkomentar, tetapi dari sikapnya yang sangat senang dengan makanan bekas tersebut dan melahap habis hingga tanpa sisa membuktikan bahwa mereka bahagia.

Secara pribadi, saya pun senang bisa berkontribusi terhadap kebersihan di lingkungan rumah kami. Setidaknya, semoga, langkah kecil kami dan tetangga ini menekan sumbangan gas metan hasil produksi sampah-sampah di tempat pembuangan akhir. Akhir kata, terucap terima kasih dari saya untuk Joni dan keluarganya. Tidak hanya membantu membersihkan rumput di halaman kami, tetapi juga membantu mengurangi sampah organik di lingkungan rumah kami.

Bagaimana dengan teman-teman lainnya? Punya kah pengalaman atau ide untuk menekan laju sampah organik di rumah dan lingkungannya?***

4 Tips Menulis untuk Media Digital & Web

Ilustrasi (Courtesy: cdn.dribbble.com)

Media digital menghadirkan cara baru untuk berkreasi yang tanpa batas. Ironisnya, justru manusia memiliki keterbatasan untuk menikmati ketak-terbatasan tersebut. Salah satunya hadir dari kemampuan manusia sendiri dalam membaca teks pada layar perangkat digitalnya. “Cahaya dari layar komputer lebih sangat mencolok,” tulis Donna Spencer dalam bukunya How To Write Great Copy for The Web.

Kondisi ini membuat mata lebih mudah lelah ketika membaca dari layar. Kemampuan baca juga menjadi lebih lambat sekitar 25 persen dibandingkan ketika membaca teks pada kertas. Oleh karena itu, masih menurut Donna, kita perlu menulis dengan cara yang membantu para penikmat perangkat digital untuk memberikan angin segar melalui kata-kata.

Dari buku tersebut, setidaknya ada 4 karakter para pembaca di media digital, yaitu:

  • Langsung ke Informasi yang Diinginkan
  • Membaca Loncat-Loncat (skim & scan)
  • Mata Cepat Lelah & Kemampuan Membaca Lebih Lambat
  • Menginginkan Informasi yang Berbeda, Bermakna, dan Relevan

To The Point

Pembaca media digital ingin langsung mencari jawaban dan menuju informasi yang diinginkannya. Saya pribadi merasakan hal tersebut ketika tengah mencari bahan tulisan. Bahkan, tak jarang saya menggunakan fasilitas pencarian untuk menemukan kata yang saya inginkan pada sebuah teks dan melewati untuk membaca keseluruhan naskah.

Untuk menghadapi hal ini, seorang penulis perlu membangun judul dan paragraf pembuka yang menggambarkan pesan utama tulisannya. Barangkali, cara memaparkannya mirip dengan penyajian Berita Langsung (Straight News) yang kerap menghiasi wajah website berita. Bedanya, paparannya disajikan secara bertahap dalam beberapa bagian berdasarkan topik tulisan.

Panjang ideal masing-masing bagian maksimal 10 paragraf. Bukalah masing-masing bagian dengan satu paragraf yang menjelaskan ihwal inti dari topik yang dibahas. Paragraf selanjutnya mendeskripsikan dan menjabarkan paparan pada paragraf pertama.

Tips lainnya, pergunakan subjudul untuk menandai masing-masing bagian. Pergunakanlah kata-kata yang singkat, padat, dan jelas, sekaligus menyentil rasa ingin tahu pembaca. Jaga agar panjangnya subjudul kurang dari 10 kata agar tetap menarik di mata pembaca. Lalu, pertebal atau perbesar hurufnya agar tampak lebih mencolok dibandingkan bagian tubuh teks, sehingga mata pembaca bisa langsung mengenali subjudul tersebut.

Skim & Scan

Karakter lainnya, pembaca media digital kerap membaca secara loncat-loncat ke seluruh bagian layar. Mereka membaca sepintas lalu (skim) sambil sesekali mencari kata-kata yang mereka butuhkan atau objek-objek yang menonjol di layar (scan). Dalam hal ini, kita bisa membantu pembaca dengan menyajikan gambar atau kutipan yang relevan dengan tulisan kita.

Gambar sendiri bisa berupa foto, sketsa, diagram, atau infografis. Foto yang menggambarkan sebuah peristiwa sangat membantu pembaca untuk memahami jalan sebuah cerita atau objek lebih baik. Sketsa memiliki peran seperti foto, hanya saja berkesan lebih nyeni dan filosofis. Kendalanya, waktu yang diperlukan untuk membuat sketsa jauh lebih lama ketimbang hanya menampilkan foto. Tantangan lainnya, hanya sebagian kecil saja yang mampu membuat sketsa. Sisanya, tentu membutuhkan usaha yang besar untuk menghadirkan sebuah guratan gambar, entah itu memesan, minta dibuatkan, atau mengedit dengan aplikasi pengolah gambar.

Adapun diagram berperan untuk menampilkan alur, proses, atau kronologis tertentu dalam bentuk grafis agar pembaca bisa memahaminya dengan lebih cepat. Infografis juga berperan sama dengan diagram, hanya saja kandungan informasinya lebih kompleks dan dikemas dalam bahasa visual, termasuk dengan menyajikan foto yang ditambahkan konteks.

Kutipan, sesuai namanya, mengutip informasi-informasi kunci dan menarik dalam tubuh tulisan. Selain menyajikan intisari pembahasan, kutipan juga bisa menggelitik rasa penasaran pembaca, termasuk mendorong mereka agar membaca lebih detail alih-alih hanya sepintas.

Cara penyajiannya pun cukup sederhana: menggunakan huruf yang lebih besar dengan warna yang lebih lembut dibandingkan tubuh tulisan. Lokasinya, biasanya diletakkan di dekat kalimat yang dikutip, tetapi tetap menjaga jarak agar tidak terlalu berdempetan. Umumnya, kutipan berupa kalimat dengan panjang maksimal 14 kata.

Pertimbangkan kemunculan gambar, diagram, dan kutipan pada tubuh tulisan. Idealnya, pada satu bagian terdapat satu gambar, diagram, atau kutipan. Di atas itu, biasanya akan mengacaukan tampilan tulisan dan membuatnya jadi tampak berantakkan. Bila pun ada lebih dari satu foto yang harus ditampilkan, sebaiknya buat sebagai kelompok gambar yang disusun dalam baris dan kolom yang rapih. Tak lupa, cantumkan pula keterangan masing-masing foto.

Kita juga bisa menggunakan daftar (list) untuk menyajikan informasi dengan lebih baik kepada pembaca era digital. Daftar ini bisa ditampilkan dalam bentuk penomoran maupun ikon tak berurutan lainnya. Panjang idealnya di bawah lima kalimat, atau sekitar satu paragraf. Di atas itu, sebaiknya tulisan dibagi ke dalam bentuk pembahasan subjudul.

Cepat Lelah & Lambat Membaca

Kondisi yang satu ini bisa disiasati dengan menyajikan bahasa yang singkat dan sederhana. Dalam Bahasa Inggris, para jurnalis mengenalnya sebagai KISS yang merupakan singkatan dari Keep It Short and Simple. Maknanya, seorang jurnalis harus menjaga agar tulisannya tetap pendek dan sederhana, baik secara Paragraf, Kalimat, maupun Kata.

  • Paragraf yang masuk kategori KISS memiliki panjang kurang dari lima kalimat. Bila lebih dari itu, sebaiknya potong menjadi dua paragraf atau lebih. Kemudian, pastikan satu paragraf hanya memiliki satu ide.
  • Kalimat yang masuk kategori KISS terdiri dari:
    • Kalimat Aktif berstrukturkan Subjek – Predikat – Objek – Keterangan (SPOK) dengan subjek merupakan aktor atau pelaku. Selain itu, predikatnya merupakan kata kerja (verb) yang dalam Bahasa Indonesia umumnya berawalan Ber- dan Me-.
    • Kalimat Positif memaparkan informasi secara langsung. Sebaliknya, Kalimat Negatif menyampaikan informasi secara tidak langsung dengan membubuhkan kata pengingkaran, seperti: tidak, tanpa, dan bukan. Pembaca cenderung mampu memahami pesan lebih baik dengan Kalimat Positif.
    • Kalimat Pendek memiliki jumlah kata ideal di bawah 14 kata. Semakin pendek sebuah kalimat, semakin mudah pembaca memahami pesan kita. Sebaliknya, pembaca cenderung sulit memahami pesan pada kalimat yang panjangnya di atas 14 kata.
    • Satu Kalimat, Satu Informasi. Kalimat yang memiliki dua informasi atau lebih cenderung membuat pembaca berpikir lebih keras, bahkan berpotensi salah memaknai kalimat.
    • Hindari Kalimat Majemuk karena kalimat ini umumnya memuat lebih dari satu informasi dalam satu kalimat. Kalimat ini memiliki anak kalimat dengan kata sambung di antaranya, seperti: sehingga, lantaran, dan maka.
  • Kata yang masuk kategori sederhana dan pendek memiliki penggalan kata kurang dari lima penggalan. Selain itu, prioritaskan juga kata kerja, khususnya pada predikat.

Think Different

Selain membutuhkan informasi yang tepat, pembaca digital juga cenderung menginginkan perspektif yang berbeda. Dalam hal ini, kita bisa membangun tulisan dengan cara berpikir lateral. Cara berpikir ini identik dengan berpikir di luar kotak (out of the box) dan bisa juga anti arus utama (mainstream)

Mainstream sendiri bermakna umum atau biasa. Anti-Mainstream bermakna melawan kebiasaan umum dan tidak biasa. Dalam hal ini, kita bisa mengembangkan cara berpikir yang tidak biasa, atau bahkan melawan kebiasaan orang pada umumnya. Misalnya saja, bersepeda di tengah kebiasaan orang yang menggunakan mobil dan motor pribadi. Atau memelihara kambing dari kecil setahun sebelum idul kurban di tengah kebiasaan orang-orang yang tinggal membeli hewan kurban beberapa hari sebelum Idul Adha.

Sudut pandang anti-mainstream bisa kita latih dengan cara berpikir yang berlawanan dengan kebiasaan kebanyakan orang. Cara lainnya, cobalah lebih banyak membaca tentang kebiasaan orang-orang di luar negeri yang jauh dari Indonesia. Biasanya, perbedaan budaya akan menghasilkan perbedaan kebiasaan. Kebiasaan yang berbeda ini, bila coba dibawa dan diperkenalkan di Indonesia, bisa jadi sesuatu yang anti-mainstream.

Hanya saja, anti-mainstream memiliki masa kadaluarsa. Bila semua orang melakukan kebiasaan yang anti-mainstream, maka hal tersebut akan jadi mainstream. Contohnya dengan skuter listrik di Jakarta sebagai alat transportasi sehari-hari. Hari ini, pilihan tersebut sangat anti-mainstream ketika umumnya orang menggunakan bus, mobil, dan sepeda motor. Namun, pada masa yang akan datang, ketika umumnya orang di Jakarta menggunakan skuter listrik, kebiasaan ini bisa menjadi mainstream. Dan justru ketika orang yang naik motor jumlahnya menjadi sangat sedikit, bisa jadi mereka akan menjadi anti-mainstream pada masa tersebut.

Adapun Out of The Box biasanya merujuk ke orang-orang yang berpikir dan berpandangan unik dibandingkan orang kebanyakan. Perbedaannya dengan anti-mainstream, seseorang yang Out of The Box memiliki ide yang genuine, asli, dan tidak mudah ditiru. Orang tipikal ini juga bisa melihat sebuah hal atau persoalan dari sudut pandang yang menarik, tidak terpikirkan sebelumnya, dan lebih luas.

Salah satu sosok yang punya jenis pikiran ini adalah Pidi Baiq. Kala orang lain berpikiran untuk mendapatkan sekolah terbaik, dia malah berpandangan bahwa tujuan orang sekolah di Indonesia itu supaya bisa reunian, bukan mendapatkan ijazah maupun mengejar jenjang pendidikan. Menarik bukan?

Kunci utama untuk mengembangkan kemampuan berpikir ini dengan cara mengoptimalkan fungsi otak kanan. Biasanya, kita bisa mengasahnya melalui seni. Otak kanan sendiri berurusan dengan imajinasi. Cara kerjanya bersifat lateral, atau keluar dari anggapan lama dan menggesernya ke anggapan baru. Hal ini berbeda dengan cara berpikir otak kiri yang cenderung linear, urut, dan teratur. Lebih lanjut soal berpikir lateral ini, bisa kita baca tulisan Seni Berpikir Lateral dalam Menulis dalam blognya kang Budhiana.

Ilustrasi berpikir Linear dan Lateral. (Courtesy: magichoth.com)

Bernyalanya Kultur Open Source untuk Kesekian Kalinya…

Ilustrasi. (Gambar: fossbytes.com)

Baru-baru ini, CNBC merilis sebuah feature video berjudul The Rise of Open Source Software di saluran Youtube-nya. Seperti judulnya, video tersebut bercerita tentang mulai berjayanya skema pengembangan perangkat lunak open source dalam satu dasawarsa terakhir di dunia. Sebagai sosok yang pernah mencicipi pengalaman sebagai aktivis open source, laporan tersebut mendatangkan kerinduan tersendiri terhadap aktivitas komunitas open source, sehingga membuat saya ingin mengulas tentangnya, sedikit saja.

Open source software sendiri merupakan julukan bagi skema pengembangan perangkat lunak yang menitik-beratkan kepada kolaborasi dan keterbukaan pengetahuan. Dalam hal ini, kode sumber perangkat lunak bebas diakses dan digunakan oleh siapa pun untuk dikembangkan menjadi sesuatu yang lebih baik dan baru. Karakteristik lainnya, perangkat lunak jenis ini bebas digunakan oleh siapa pun jua. Karena bebas digunakan ini pula, orang banyak menyebutnya sebagai Free and Open Source Software, yang kerap disingkat sebagai FOSS. Dalam Bahasa Indonesia, istilah tersebut bermakna Perangkat Lunak Sumber Terbuka (Open Source) dan Bebas.

Hal ini berbeda dengan perangkat lunak proprietary yang kode sumbernya tertutup, sehingga tidak bisa diakses dan digunakan oleh siapa pun selain perusahaan yang bersangkutan. Karakteristik lainnya, perangkat lunak propietary memiliki lisensi yang harganya pada masa lalu termasuk tinggi. Bahkan, siapa pun yang berusaha meretasnya, bisa terkena sangsi hukum lantaran perangkat lunak jenis ini dilindungi undang-undang. Kita mengenalnya sebagai “copy-right”, atau dalam bahasa Indonesia lebih kurang bermakna hak cipta.

Kode sumber sendiri merupakan barisan perintah komputer yang menyusun sebuah perangkat lunak. Ibarat masakan, kode sumber itu bahan-bahan masakan sekaligus cara meramunya. Bagi perangkat lunak proprietary, resep masakan tersebut sangat rahasia dan tidak boleh dibuka kepada publik. Bila ketahuan orang di luar perusahaan, bisa dipastikan ada yang bisa meramunya dan membuat penganan serupa. Nah, bagi perangkat lunak open source, resep ini boleh dilihat oleh siapa pun. Para pemrogram dari seluruh dunia bisa melihat bahan-bahan dan cara masaknya, kemudian menyusun ulang dari resep tersebut.

Richard Stallman, sosok di balik gerakan open source software di dunia. (Foto: stallman.org)

Kembali ke perangkat lunak open source dan bebas. Richard Stallman merupakan pencetus gerakan pengembangan perangkat lunak open source dan bebas di Amerika, dan mungkin di dunia. Gerakan ini merupakan bentuk protes atas kesulitannya melihat kode sumber dari berbagai perangkat lunak yang mulai berkembang di Amerika pada awal tahun 1980-an. Istilah “free” dalam perangkat lunak sumber terbuka, menurut Richard Stallman bukan selalu berarti gratis. “Free” sendiri lebih bermakna bebas digunakan oleh siapa pun jua. Dia menganalogikannya sebagai “bebas untuk berbicara, bukan bir gratis.” Tujuannya lebih untuk membebaskan pemanfaatan perangkat lunak dari batasan apa pun.

Walter Isaacson dalam bukunya berjuluk The Innovators menyebutkan bahwa Richard Stallman merupakan sosok yang anti-kompetensi, bahkan sejak duduk di bangku SMA. Alih-alih bertanding, pria kelahiran 1953 ini lebih senang bekerjasama dan berkolaborasi. Prinsip inilah yang terbawa hingga penyuka matematika ini menyelesaikan kuliahnya di Harvard dan bekerja di Laboratorium Kecerdasan Buatan MIT di Cambriedge, Amerika Serikat. Di sana, dia kemudian terlahir sebagai peretas yang menjunjung tinggi nilai-nilai kolaborasi dan keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan, dalam hal ini kode sumber perangkat lunak.

Dari gerakan perangkat lunak open source dan bebas ini pula lahir istilah “Copyleft” yang merujuk kepada hak untuk menyalin setiap kode sumber aplikasi yang berada di bawah lisensi tersebut. Istilah tersebut seperti sengaja mengambil penggambaran yang terbalik dan cenderung berlawanan dari istilah “Copy Right”. Selain bermakna “hak”, “Right” dalam Bahasa Inggris bermakna juga “Kanan”. Tentunya, lawan dari posisi tersebut adalah kiri yang dalam Bahasa Inggris disebut “Left”. Ungkapan lainnya juga hadir dalam bentuk pelesetan istilah “Copy Right” sebagai “Right to Copy”, atau dalam Bahasa Indonesia bermakna “hak untuk menyalin”.

Sebagai perwujudan idenya tersebut, Richard Stallman kemudian membuat sistem operasi berjuluk GNU yang bersifat terbuka dan bebas digunakan oleh siapa pun. GNU sendiri merupakan singkatan dari GNU Not Unix. Kala itu, Unix merupakan sistem operasi yang marak digunakan oleh banyak orang dan bersifat proprietary dengan lisensi seharga 5 ribu Dollar per salinannya. Sayangnya, dia tidak benar-benar berhasil membangun sistem operasi idamannya tersebut. Namun, harapannya justru lahir di dataran Eropa, tepatnya di Finlandia. Pada 5 Oktober 1991, pemuda berusia 21 tahun dari Universitas Helsinki meluncurkan sistem operasi berjuluk Linux untuk pertama kalinya.

Pemuda tersebut bernama Linus Torvalds, dan sistem operasinya langsung mencuri perhatian dunia. Sejak saat itu, banyak pemrogram dari seluruh dunia bahu membahu mengembangkan Linux menjadi sistem operasi yang handal untuk kepentingan apa pun, khususnya terkait dengan pemrograman. Bahkan, hingga detik ini, sistem operasi tersebut sudah beranak-pinak menjadi puluhan varian yang digunakan oleh milyaran orang di seluruh dunia.

Linux Torvalds merupakan sosok yang menghadirkan Linux untuk pertama kalinya di dunia. (Foto: fossbytes.com)

Dari gerakan ini, Eric Raymond, salah seorang teoritikus yang berpengaruh dalam gerakan perangkat lunak open source, mencetuskan Hukum Linus. Teori tersebut berbunyi, “Asalkan dipelototi oleh banyak orang, semua bug bisa dilibas.” Dengan kata lain, setiap cacat di Linux langsung teratasi dengan budaya pengembangan perangkat lunak open source dan bebas ini.

Kerja kolaborasi inilah yang kemudian membangun Linux sebagai sistem operasi terbaik sepanjang masa. Sebuah studi pada 2009 terhadap Debian GNU/Linux versi 5.0, menyebutkan bahwa sistem operasi tersebut memiliki 324 juta baris kode. Bila sebuah perusahaan mengembangkan kode sebanyak itu melalui cara produksi yang konvensional, butuh biaya sekitar $8 miliar, atau setara 120 triliun Rupiah. Bila sebuah mobil mewah memiliki harga satu milyar Rupiah, dengan dana tersebut kita bisa membeli 120 ribu mobil tersebut.

Sistem operasi sendiri merupakan perangkat lunak yang memungkinkan sebuah komputer berfungsi dan bisa digunakan untuk bekerja. Perangkat lunak yang kita pergunakan saat ini berjalan di atas sebuah sistem operasi. Selain Linux, contoh sistem operasi yang dikenal publik saat ini antara lain: Windows buatan Microsoft, MacOS buatan Apple, iOS untuk iPad dan iPhone besutan perusahaan berlogo apel, serta Android yang dibangun oleh Google.

Perusahan perangkat lunak proprietary sangat menentang ide komunitas perangkat lunak open source dan bebas ini. Bahkan, perusahaan produsen sistem operasi Windows menyebutnya sebagai, “Tidak Amerika dan buruk bagi hak kekayaan intelektual.” Salah satu balasan responnya, di dalam komunitas perangkat lunak open source dan bebas tersebar celetukan, “No Bill, it’s free; no Gates, it’s open.

Meskipun demikian, banyak pula perusahaan yang menaruh minat dan harapan besar kepada skema pengembangan a la open source dan bebas ini. Kala itu, keputusan sebuah perusahaan untuk membuka kode sumber perangkat lunaknya dan membangun komunitas relawan pemrogram sangat riskan dan dipandang merugikan secara bisnis. Namun, manajemen jenis perusahaan ini tetap yakin bahwa langkah tersebut mampu membangun produk dan bisnis mereka menjadi lebih baik.

Ternyata, harapan tersebut benar-benar berbuah sangat manis dan ranum. Banyak perusahaan tersebut merangkak menjadi besar dengan produk-produk terbaik berbasis pengembangan a la open source ini. Misalnya saja Google yang sedari awal memang membangun kultur pengembangan open source dalam perusahaan mereka. Pada tahun 2008, perusahaan ini berhasil merilis sistem operasi Android untuk ponsel. Sistem operasi ini berangkat dari Linux dan dikembangkan dengan skema open source.

Perusahaan berbasis teknologi mesin pencari tersebut memang memiliki pasukan pengembang berbasis komunitas open source yang bekerja secara relawan berjuluk Googler. Mereka sangat aktif terlibat dalam berbagai proyek perangkat lunak di dunia, baik milik Google maupun milik para individunya. Dalam wawancaranya kepada CNBC, Director of Engineering Google, Chen Goldberg, menyebutkan bahwa Googler terlibat dalam 28 ribu proyek perangkat lunak sepanjang tahun 2018.

Skema pengembangan perangkat lunak berbasis open source memang sedang menjadi tren dunia sejak satu dasawarsa terakhir. Feross Aboukhadijeh, pemelihara perangkat lunak open source, mengungkapkan bahwa 99 persen perusahaan yang termasuk Fortune 500 menggunakan open source. Bahkan, pada tahun 2019, IBM mengakuisisi perusahaan Linux RedHat senilai $34 miliar, atau setara 510 triliun Rupiah. CNBC menyebutnya sebagai, “Akuisisi perangkat lunak terbesar dalam sejarah.”

IBM mengakuisisi RedHat dengan nilai terbesar sepanjang sejarah. (Foto: sumerge.com)

Melihat tren skema pengembangan open source yang sangat kuat seperti sekarang ini, Microsoft pun memutuskan untuk masuk arena dengan membeli saham platform pengembangan perangkat lunak berbasis open source berjuluk GitHub seharga $7,5 miliar, atau setara dengan 112 triliun Rupiah. Padahal, perusahaan ini termasuk yang skeptis dengan model pengembangan open source pada masa lalu.

Lalu, bila kode sumbernya terbuka dan perangkat lunaknya tersedia bebas, bagaimana perusahaan ini menghasilkan uang? Dalam hal ini, perusahaan berjuluk RedHat Enterprise Linux menjadi contoh yang paling baik dalam pengembangan model bisnis open source. RedHat sendiri merupakan varian Linux yang masuk lima besar di dunia. Sistem operasi ini dikembangkan dengan skema open source dan siapa pun bebas untuk menggunakannya. Hanya saja, bila kalangan perusahaan ingin mendapatkan fasilitas yang lebih dari biasanya, perusahaan RedHat siap untuk memberikan layanan tambahan berupa dukungan teknis secara profesional.

Di bidang media, cara berbisnis RedHat ini berjuluk “Freemium”. Skema ini pernah digadang-gadang untuk membangun model bisnis media massa pada era digital. Teknisnya, sebagian konten bersifat bebas untuk diakses oleh siapa pun jua. Adapun konten-konten pilihan dan mendalam tersedia dalam skema premium. Seorang pembaca harus membayar untuk mengakses konten-konten jenis ini.

Dalam lingkungan komunitas pengembang open source, langkah RedHat termasuk yang ideal dan mendapatkan acungan jempol. Cara ini sangat strategis dalam mengumpulkan pundi-pundi pendapatan sembari tetap menjaga marwah komunitas. Cara ini kemudian banyak ditiru oleh banyak perusahaan berbasis Linux kala itu. Hanya saja, dari sekian banyak perusahaan yang berdiri, RedHat termasuk yang teratas.

Seiring berjalannya waktu, model bisnis a la open source mulai berkembang menjadi lebih baik lagi. Umumnya, model bisnis ini selalu menghargai prinsip bahwa seluruh perangkat lunak harus menyediakan kode sumber yang terbuka dan bebas. Oleh karena itu, mereka cenderung menghindari skema “berjualan” dengan cara “keras” a.k.a “hard selling” dan lebih memprioritaskan “soft selling”.

Satu hal yang menarik dari laporan CNBC tersebut dan baru saya sadari ketika menontonnya adalah kultur kolaborasi dari komunitas open source di seluruh dunia. Kultur kolaborasi ini selanjutnya membangun identitas masyarakat yang hidup dengan internet pada detik ini. Bahkan, ekonomi berbasis internet tidak bisa lepas dari kultur kolaborasi.

Tengoklah bagaimana beberapa kampium perusahaan teknologi Indonesia lahir dari prinsip ini. Salah satunya Gojek yang berhasil membangun kolaborasi antara pemilik kendaraan, pengendara, dan konsumen melalui aplikasi. BukaLapak dan Tokopedia juga melakukan hal yang sama dengan membangun kolaborasi antara penjual dan menyediakan pasar berbasis teknologi. Traveloka pun serupa, tetapi dengan garapan di bidang wisata dan perjalanan. Rhenald Kasali menyebutnya sebagai, “menghubungkan antar ekosistem”. Apple fanboy lebih senang mengutip ungkapan Steve Jobs sebagai, “Connecting the dots.”

Di ranah komunitas berbasis isu sosial, kultur ini juga menguat seiring maraknya teknologi komunikasi, khususnya media sosial dan aplikasi percakapan. Teknologi tersebut digunakan untuk membangun solusi bersama atas berbagai permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. KitaBisa, Berbagi Nasi, Blood for Life, dan Bandung Berkebun merupakan salah satu contoh kolaborasi berbasis teknologi informasi. Hanya saja, memang belum sedahsyat Linux yang mampu membangun keberlanjutan hingga tiga dasawarsa terakhir.

Ke depan, kultur kolaborasi a la komunitas open source masih akan menjadi tren di dunia berbasiskan teknologi informasi. Pada titik ini, pengetahuan terbuka untuk semua orang. Setiap individu bisa belajar apa pun dan di mana pun selama terkoneksi dengan teknologi dan internet. Saya jadi berpikir, perasaan sebagai aktivis open source bisa saja tidak lekang oleh waktu. Meskipun saya sudah tidak lagi bersentuhan dengan Linux dan aplikasinya, tetapi semangat dan kultur kolaborasi a la komunitas open source masih tetap bernyala. Setidaknya, ketika menyaksikan laporan CNBC ini.***

The Rise of Open Source Software yang dilansir oleh CNBC di saluran Youtube-nya.

VK Pods Pangandaran: Mainnya di Pantai, Tidurnya di Kapsul

Suasana VK Pods Pangandaran. Selain rapih dan bersih, tampilannya juga cukup sederhana sekaligus elegan. (Foto: RedDoorz.com)

Hotel Kapsul ternyata tidak hanya “mainan” kota-kota besar di Indonesia semata. Di beberapa kota pelosok pun, genre penginapan para backpacker ini sudah mulai hadir. Bahkan, fasilitasnya pun termasuk yang terbaik dengan harga yang kompetitif pula. Salah satunya, saya menemukannya kala menjejakkan kaki di Pangandaran pada awal Desember 2019 lalu.

VK Pods Pangandaran julukannya. Saya menemukannya ketika secara tidak sengaja kala mencari tempat menginap dadakan untuk bermalam di kabupaten paling ujung tenggara Jawa Barat tersebut. Pangandaran sendiri merupakan kota ketiga layanan VK Pods. Sebelumnya, mereka sudah mempersembahkan layanannya di Bandung dan Jakarta.

Saya sendiri baru mengenal keberadaan VK Pods ketika berada di Pangandaran. Pada penjelajahan hotel kapsul di Mamah Kota, saya tidak menemukan VK Pods dalam jajaran penginapan kapsul di Jakarta. Pasalnya, hotel kapsul ini berada di kawasan Pantai Indah Kapuk yang notabenenya jauh dari pusat kota. Sedangkan di Bandung, kita bisa menemuinya di Paskal Hypersquare, tak jauh dari Stasiun Bandung.

Lebih jauh mengenai VK Pods, silahkan kunjungi situsnya di vkpods.com. Melalui situs web tersebut, kita bisa memesan penginapan kapsul secara online atau hanya sekedar bertanya melalui fitur percakapan dengan layanan pelanggannya. Hanya saja, informasi di dalamnya sangat minim, khususnya paparan tentang VK Pods di Jakarta dan Pangandaran.

Kapsul kapasitas satu orang dengan kasur yang lebih lebar dibandingkan hotel kapsul lainnya di Indonesia. (Foto: RedDoorz.com)

Di Pangandaran, VK Pods tampil dengan nuansa sederhana sekaligus elegan. Mereka membuka penginapannya di salah satu deretan Ruko Carita di kawasan Grand Pangandaran. Dari gerbang utama kawasan Pangandaran, lokasi penginapan ini hanya berjarak 500 meter, atau 5 menit berjalan kaki. Tulisan RedDoorz besar di mulut pintu masuknya membuat pengunjung bisa menemukannya dengan mudah.

RedDoorz sendiri menjadi payung manajemen penginapan online untuk VK Pods. Jangan heran bila balutan warna merah bertuliskan RedDoorz kontras terlihat di kasur dan bantal di penginapan kapsul ini. Selain itu, kita juga akan dipinjami handuk dan dihadiahi souvenir berupa peralatan mandi yang dibungkus oleh kantung merah bertuliskan nama perusahaan yang didirikan oleh Amit Saberwal ini.

Keberadaan VK Pods di tengah-tengah ruko Grand Pangandaran sendiri membawa keuntungan bagi para tamu penginapan kapsul ini. Para pengunjung jadi memiliki banyak pilihan makanan dengan berbagai jangkauan harga. Mulai dari makanan modern hingga kuliner tradisional terjaja di barisan ruko ini. Pun tersedia mini market yang menyajikan variasi makanan dan minuman dengan berbagai beban. Mulai dari yang terberat dengan nasi menggunung, hingga yang teringan dan kriuk-kriuk untuk mengisi waktu luang dan bersantai. Variasi penganan ini tersedia di ruko Grand Pangandaran dari jam 10 pagi hingga 12 jam kemudian.

Kembali ke VK Pods Pangandaran. Penginapan ini menyediakan 36 kapsul berbentuk ranjang bersusun tingkat dua yang terbagi menjadi dua tipe ruang, yaitu: Ladies dan Mixed. Sesuai namanya, Ladies hanya diperuntukkan untuk kaum hawa semata. Sedangkan para lelaki bisa menempati kapsul di tipe ruang Mixed. Para wanita dengan kebutuhan privasi lebih rendah bisa juga menempati kapsul di ruang ini.

Masing-masing tipe ruangan memiliki 18 kapsul lengkap dengan pendingin ruangan. Di dalam masing-masing kapsul terdapat kasur dengan lebar 120 Sentimeter berikut bantal, guling, dan selimut serta ornamen berwarna merah bertuliskan RedDoorz. Ukuran kasur ini termasuk lebar bila dibandingkan dengan hotel kapsul pada umumnya yang hanya menyediakan kasur selebar 90 Sentimeter saja.

Beberapa kapsul juga tersedia dengan ukuran kasur yang lebih lebar untuk menampung dua orang tamu sekaligus, sekitar 160 Sentimeter. Tentu saja, kapsul jenis ini memiliki harga yang lebih mahal dibandingkan kapsul tunggal. Namun, bila kita memungkinkan satu ranjang dengan rekan atau saudara, tentunya biaya ini bisa jauh lebih murah dibandingkan menyewa dua kapsul sekaligus.

VK Pods Pangandaran juga menyediakan kapsul berkapasitas dua orang. (Foto: RedDoorz.com)

Di dalam masing-masing kapsul tersedia juga meja kecil, dua lubang listrik, dan sepasang liang USB. Fasilitas ini cukup untuk mengisi ulang perangkat elektronik pengunjung, seperti: power bank, ponsel cerdas, dan tablet. Bagi mereka yang memang perlu membuka komputer jinjingnya, meja kecil tersebut cukup untuk melakukan aktivitas dengan layar lebar seperlunya saja. Dengan dukungan koneksi internet nirkabel yang cukup cepat, kita bisa terhubung dengan dunia luar melalui dunia maya. Terdapat juga saklar kecil di dekat meja untuk menghidupkan dua lampu led yang terpasang di atap kapsul. Cukup terang sebagai teman membaca dan bekerja.

Untuk urusan privasi, VK Pods Pangandaran menyediakan tirai tebal dan lebar di salah satu sisi masing-masing kapsul. Hanya saja, privasinya memang tidak sekokoh dinding kayu a la Inap at Capsule. Namun, sudah cukup untuk membuat kita tertutup dari pengunjung yang berlalu-lalang di gang antar kapsul.

Soal tirai penutup ini, saya sempat berseloroh ke seorang kawan bahwa hotel kapsul itu anti-prostitusi. Pasalnya, siapa pun yang berniat melakukan tindakan reproduksi tersebut pasti berpikir dua kali. Aktivitas mereka bisa dengan mudah terdengar oleh orang-orang di sekitarnya. Dan tentunya, bisa diintip dengan mudah lantaran penutupnya yang hanya berupa tirai semata.

Untuk urusan barang bawaan, VK Pods menyediakan loker di luar masing-masing kamar. Ukurannya juga cukup besar dengan panjang masing-masing rusuknya sekitar setengah meter. Cukup untuk memuat tas gunung 50 liter atau dua koper ukuran kabin. Hanya saja, bagi saya, kuncinya terlalu tipis dan kurang kokoh. Karenanya, saya tidak berani menitipkan barang berharga lama-lama di koper ini.

Kamar mandi VK Pods Pangandaran menyediakan toilet dan area basah dalam satu tempat. Sangat praktis untuk saya yang kerap buang air besar kemudian mandi. (Foto: RedDoorz.com)

Satu hal yang unik dan saya sukai dari hotel kapsul ini adalah kamar mandinya. VK Pods Pangandaran memiliki tiga kamar mandi yang masing-masing biliknya memiliki toilet sekaligus area basah untuk mandi. Bagi saya, kondisi ini sangat praktis lantaran tidak perlu berpindah-pindah bilik untuk buang air besar sekaligus mandi.

Hal ini tentu sangat berbeda dengan penginapan kapsul kebanyakan yang memisahkan antara bilik toilet dan area basah. Saya kerap kerepotan berpindah bilik bila harus buang air besar dan mandi dalam satu waktu. Terlebih lagi bila saya hanya berbekal handuk kecil. Untuk berpindah bilik dari bilik buang air besar ke bilik mandi, saya harus kembali berpakaian, ke luar bilik, dan masuk lagi ke bilik mandi dan membuka pakaian lagi. Sungguh tidak praktis.

Secara garis besar, VK Pods Pangandaran bisa jadi pilihan menginap para petualang yang hendak berkunjung ke destinasi wisata utama Jawa Barat tersebut. Tempatnya bersih dan rapih, aroma ruangannya wangi nan elegan, suasananya senyaman di rumah, serta udaranya cukup dingin dibandingkan cuaca luar ruang Pangandaran yang puanas abis.

Selain tempat menginap, VK Pods Pangandaran juga menyediakan dapur dan tempat berkumpul serta kolam rendam. Dapur sendiri terletak di area belakang di lantai satu. Tempat ini jadi ruang berkumpul ideal lantaran areanya cukup luas dengan banyak kursi dan meja. Di sebelah baratnya terdapat pemandangan sawah dan gunung yang masih asri. Di sini pula, kita bisa meminjam gelas dan peralatan makan lainnya. Ada juga air siap minum dengan tiga pilihan suhu serta lemari pendingin untuk menitipkan makanan dan minuman.

Tepat di sebelah dapur terdapat kolam rendam berukuran seperempat lapangan bulu tangkis. Kolam ini termasuk sempit untuk renang, tapi sangat nyaman untuk berendam dan mengusir udara panas khas pantai yang menyengat. Di Google Maps, saya melihat beberapa rombongan pengunjung memanfaatkan kolam ini untuk bermain air bersama anak-anaknya yang masih balita.

Di lantai dua, terdapat pula ruang santei dengan sofa dan televisi. Sayangnya, kapasitasnya terlalu kecil dan hanya mampu memuat sekitar lima orang saja. Hal ini membuatnya kurang cocok menjadi tempat berkumpul untuk pengunjung yang jumlahnya rombongan. Namun, bila ingin bersantai sejenak, ruangan ini cukup bisa memanjakan badan dan mata serta pikiran.

Dapur yang nyaman dan terbuka ini menyediakan peralatan makan dan air minum serta lemari pendingin. (Foto: Booking.com)

Hanya saja, tidak ada gading yang tak retak. Salah satu hal yang cukup menjadi perhatian saya adalah soal kebersihan kamar mandi. Beberapa bagian tampak kotor, khususnya di area lantai serta tempat sampah yang lembab. Fasilitas air hangat pun terasa kurang maksimal dengan suhu air yang hanya sekitar 30 derajat Celcius. Kurang “nendang” buat saya yang senang sekali mandi air panas.

Meskipun demikian, VK Pods Pangandaran layak untuk dicoba. Untuk pemesanan, bisa melalui aplikasi RedDoorz atau pun Traveloka. Saya sendiri memilih untuk langsung bertandang ke VK Pods Pangandaran dan memesan penginapan kapsul langsung di lokasi. Beruntung, saya datang tepat pada musim sepi turis di Pangandaran. Hasilnya, saya hanya perlu mengeluarkan 60 ribu Rupiah untuk bisa tidur nyenyak di salah satu kapsulnya selama satu malam.

Bagaimana dengan kawan-kawan semua? Siap menyusul liburan ke Pangandaran dan menginap di VK Pods juga?***