Bila ditanya tentang hal yang membuat bahagia, saya akan menyebut barang yang satu ini: tabel. Yah, tabel. Sesuatu dua dimensi yang hanya didominasi oleh bentuk kotak-kotak. Di dalam masing-masing kotak ini ada tulisan yang disesuaikan dengan kelompoknya masing-masing. Dan isi tulisan tersebut adalah kehidupan. Yah, kehidupan yang kuantitatif lebih tepatnya.
Urusan “kotak-kotak kehidupan” tersebut memang lebih muda dari urusan “ketak-ketik kehidupan”. Bila tidak salah ingat, semuanya berawal kala saya duduk di kelas mata kuliah akuntansi. Yah, akuntansi yang kerjaannya ngitung-ngitung uang. Saya benar-benar bahagia bisa menggunakan dan paham akuntansi tersebut kala mempelajarinya menggunakan spreadsheet milik Microsoft, Excel. Meskipun gagal mendapatkan nilai A gegara sakit dan terlambat mengumpulkan tugas, tetapi saya senang bisa paham akuntansi.
Singkat cerita, pada kuliah tingkat dua, saya harus tinggal dan kuliah di Bandung secara mandiri. Kala itu, orang tua harus pindah ke luar kota dan tidak bisa membiayai kehidupan saya. Alhamdulillah, kala itu, saya sudah punya pendapatan dengan bekerja sebagai fasilitator pendidikan lingkungan hidup. Menariknya, saya begitu gandrung mencatat semua pemasukkan dan pengeluaran dengan jurnal keuangan sederhana menggunakan Excel. Dan satu hal yang paling saya tunggu-tunggu ketika tanggal satu setiap bulannya. Karena saya bahagia melihat ikhtisar dan grafik pemasukkan dan pengeluaran selama satu bulan sebelumnya.
Entah bagaimana ceritanya, tetiba saya diajak untuk terlibat di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat di bidang studi sosial. Pekerjaan saya kala itu adalah staf keuangan. Aktivitasnya pun cukup sederhana: membangun sistem keuangan dan jam kerja berbasiskan spreadsheet sekaligus memonitor masuknya laporan keuangan dari staf. Kagetnya, sistem ini ternyata masih digunakan sejak dibangun 20 tahun lalu, sampai hari ini. Pasalnya, LSM ini berbasiskan bekerja di rumah tanpa kantor. Oleh karena itu, monitoring pekerjaan dan keuangan dilakukan secara jarak jauh dengan menggunakan tabel digital sederhana tersebut.
Keasyikan bermain tabel tersebut semakin menjadi-jadi kala saya dikenalkan dengan Data Journalism, atau bahasa lainnya Jurnalisme Data. Yah, seiring dengan semakin masifnya akses digital dan data, maka jurnalisme pun harus melengkapi “senjata pemberitaan”-nya dengan data. Ragam produknya pun banyak. Salah satu yang biasanya dekat dengan data adalah infografis. Meskipun tampak sederhana, tetapi kelengkapan data menjadi esensi tersendiri bagi infografis. Bila datanya tidak lengkap, biasanya infografisnya pun garing.
Di negara-negara yang sudah banyak mengadopsi big-data, media dan para jurnalisnya sangat senang untuk membangun berita berbasiskan data. Bahkan, para pengembang perangkat lunak sampai membuat aliran Robo-Journalism. Praktisnya, berita-berita singkat bisa otomatis dibangun dengan memanfaatkan data dan kecerdasan buatan (artifisial intelligent). Misalnya saja, kemenangan klub basket tertentu bisa langsung diberitakan dengan memanfaatkan data pertandingan dari penyelenggara pertandingan. Atau, berita tentang gempa langsung dibuatkan oleh komputer dan dipublikasikan di media online secara cepat. Di sini, data berbicara, sedangkan komputer menyusunnya, dan publik menikmatinya.
Hanya saja, jurnalisme data ini agak tersendat di Indonesia. Meskipun kita “tampak” terdigitalisasi, tetapi banyak data yang berbeda satu sama lain. Sudah rahasia umum, data tentang suatu hal yang sama di sebuah kementerian ternyata berbeda dengan data di kementerian lainnya. Ketika mengutip data sebuah kementerian, maka data yang lain justru bisa berbeda jauh terbalik dengan data kementerian lainnya. Bila data bisa jadi alat jurnalistik yang ampuh di negara yang big data-nya sudah baik. Kebalikannya, data di Indonesia justru jadi alat berkonflik.
Kembali ke pertabelan. Kegandrungan saya dengan tabel semakin menjadi-jadi kala Google meluncurkan aplikasi Spreadsheet. Berbeda dengan kebanyakan aplikasi tabel sejenis yang tersedia offline, Google Spreadsheet justru bisa diakses di mana pun dan kapan pun dengan menggunakan browser dan internet. Bahkan, aplikasi ini memungkinkan para penggunanya untuk bekerja gotong royong secara real time. Salah satu keuntungannya, saya bisa memonitor berbagai pekerjaan dengan Google Sheet tersebut.
Tentunya, ada seni tersendiri untuk mendokumentasikan kehidupan dalam tabel. Secara umum, data tersedia secara kuantitatif dan kualitatif. Sederhananya, data kualitatif bersifat abstrak dan berbentuk narasi. Data semacam ini tidak bisa dikelompokkan dan dijenjangkan secara lebih spesifik. Termasuk data kualitatif adalah wawancara narasumber, panas-dingin, kesenangan-kesedihan, serta kesakitan-kebahagiaan. Sebaliknya, data kuantitatif bersifat runut serta bisa dikonversikan ke dalam kelompok dan jenjang yang lebih spesifik. Sederhananya, data kuantitatif tersedia dalam bentuk angka dan logika yang bisa dikategorikan secara detail dan spesifik. Misalnya saja: usia, kelamin, uang, waktu, dan jarak. Semuanya dengan mudah bisa dikelompokkan sesuai dengan aturan yang kita tentukan. Contohnya saja, kita bisa menilai rata-rata usia, kelamin yang lebih banyak, uang yang keluar untuk transportasi, dan waktu yang kita perlukan untuk terbang dari Bandung ke Jakarta. Semuanya mudah ditaksir dan dinilai.
Tentunya, data kuantitatif ini adalah mainan Google Sheet. Namun, kita harus pintar-pintar mengkategorikan bagian mana saja yang termasuk ke dalam kuantitatif dan kualitatif. Semakin kehidupan kita bisa ditakar dengan angka, tentu sifatnya semakin kuantitatif. Sebaliknya, ada dalam wilayah kualitatif.
Setelah bagian kehidupan kuantitatif ini bisa kita petakan dalam tabel-tabel, semakin seru untuk menganalisisnya dalam formulasi Google Sheet. Urusan “jika” dan “benar-salah” jadi mainan tersendiri dalam mengarungi bagian kehidupan yang kuantitatif. Bila data-datanya lengkap dan tersedia secara banyak, maka keindahan dan keseruannya bisa kita nikmati dalam bentuk grafik. Meskipun terasa sebentar, tetapi pada momen itulah, saya sedang menikmati hidup yang membahagiakan.***


Tinggalkan komentar