Masyarakat Sunda mengenal istilah “tangan dingin” dalam bertanam. Konon, mereka yang bertangan dingin akan selalu berhasil dalam menanam tumbuhan apa pun. Sebaliknya, maka tanaman tersebut akan mati.

Secara fisiologis, istilah “tangan dingin” tersebut memang sulit diukur dan ditakar. Bila kita mengukur suhu tangan para petani, tentu hasilnya akan sama dengan orang-orang yang tak pernah berhasil dalam bercocok tanam. Namun, selalu ada perbedaan dalam setiap tangan yang dimiliki oleh manusia.

Urusan tangan ini bukan melulu soal anggota tubuh yang memiliki jari jemari berjumlah lima semata. Tangan merupakan ujung tombak dari perbuatan manusia. Rasa-rasanya, tidak pernah ada perbuatan tanpa campur tangan sepasang tangan. Saking melekatnya urusan tangan ini dengan perbuatan, orang yang jadi kepercayaan seseorang akan disebut sebagai tangan kanan. Bahkan, dalam al-Qur’an, kata “budak” seakar kata dengan “tangan kanan”, yaitu: Ya-Mim-Nun (يمن).

Adapun kata “Dingin” sendiri memiliki konotasi yang kerap negatif. Mereka yang kaku dan tanpa kehangatan akan dengan mudahnya dilabeli sebagai “dingin”. Bahkan, mereka yang memiliki “darah dingin” akan selalu diwaspadai sebagai perenggut nyawa orang. Namun, kebersandingan “tangan” dengan “dingin” punya cerita yang berbeda. KBBI sendiri merumuskan “tangan dingin” sebagai sifat yang selalu membawa hasil, terutama dalam usaha pertanian, pengobatan, dan sebagainya.

Tentunya, kadar hasil dan keberhasilan setiap orang berbeda-beda. Bagi petani, “tangan dingin” mereka bercorakan tanaman dan tumbuh-tumbuhan. Sedangkan bagi peternak, “tangan dingin”-nya seputaran mamalia berkaki empat dan pemakan rerumputan. Seorang penulis pun ber-“tangan dingin” dalam menyusun kata dan cerita. Adapun seorang desainer bisa luwes dalam menorehkan garis dan mengarsir warna berkat “tangan dingin”-nya yang lihai dalam gambar.

Setiap orang punya “tangan dingin”-nya masing-masing. Sentuhan “dingin”-nya tersebut bisa menjalar ke banyak hal yang beresonansi dengannya. Ibarat sentuhan Raja Midas yang mampu mengubah segala sesuatu menjadi emas. Pun sentuhan “tangan dingin” bisa mengubah segala sesuatu menjadi karya dalam balutan semestanya.***


Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai