Sebuah kapal feri tengah bersandar di Pelabuhan Padang Bai, Bali. (Foto: Yudha PS)

Akses transportasi dari Pelabuhan Padang Bai menuju wilayah lain di Bali termasuk sulit menurut saya. Keluar dari kapal feri, kami langsung berhadapan dengan orang-orang yang menawarkan travel menuju Denpasar. Biayanya pun cukup luar biasa, yakni mencapai ratusan ribu Rupiah untuk satu orangnya.

Kami pun terpaksa berjalan kaki menyusuri Jalan Pelabuhan Padang Bai untuk sampai ke pertigaan Jalan Raya Ulakan-Karangasem. Harapannya, kami bisa menemukan transportasi ke Denpasar dengan biaya yang lebih murah. Di peta, jarak antara pelabuhan dan pertigaan sekitar 2,3 Kilometer dan bisa kami tempuh dalam waktu sekitar 30 menit. Hanya saja, sepanjang jalan, seorang pengendara motor dengan gigih menawarkan travel menuju Denpasar kepada kami berempat.

Karena sudah agak jauh dari pelabuhan, pria paruh baya tersebut menawarkan harga 300 ribu untuk mengangkut empat orang, atau setara dengan 75 ribu Rupiah per orang. Kami semua bersepakat untuk bertahan di harga 200 ribu atau 50 ribu per orang. Dia pun awalnya mengabaikan kami dan berharap kami luluh dengan tawarannya. Namun, beberapa menit kemudian dia kembali dan menawarkan dengan harga 50 ribu lebih rendah. Kami pun tetap bersikukuh dengan harga pertama dan terus berjalan.

Tampaknya, bayaran sedikit lebih baik daripada tidak ada pemasukkan sama sekali. Akhirnya sang pria mengalah kepada kami. Dia pun memanggil sebuah mobil hitam berjenis APV dan meminta kami semua untuk naik. “Dua ratus ribu, yah?” tegas saya yang disetujui oleh sang supir.

Ketika mobil melewati pertigaan jalan utama dan tiba di Jalan Raya Ulakan-Karangasem, sang supir malah menghentikan kendaraannya di pinggir jalan. Ternyata, dia menunggu angkutan microbus yang banyak melintas di jalan tersebut. Ketika angkutan yang ditunggu-tunggu datang, dia pun menyuruh kami untuk pindah dan membayar dengan harga yang sudah dia sepakati. “Kalau dari pertigaan, paling tiga puluh ribu Rupiah sampai Denpasar naik angkutan umum,” tiba-tiba saya teringat ucapan pak Arief di kapal ketika kami membahas transportasi ke Denpasar.

Saya sendiri baru kali ini naik kapal sekaligus mencari angkutan umum di sekitar pelabuhan. Ketika tiba di Pelabuhan Poto Tano, saya sendiri bisa melihat banyak kendaraan umum menuju Taliwang yang singgah dan menawarkan angkutan ke Ibu Kota Kabupaten Sumbawa Barat tersebut.

Adapun di Pelabuhan Kayangan, saya tidak sempat mengamati situasi karena langsung mendapatkan bus Damri yang hendak menuju Mataram. Sedangkan di Pelabuhan Lembar, saya tidak melihat ada angkutan publik yang menghubungkan antara pelabuhan tersebut dengan Kota Mataram. Dan terakhir di Padang Bai, banyak travel yang menarik tarif cukup tinggi untuk mengantarkan seseorang ke ibu kota provinsi.

Tampaknya, hal ini dikarenakan banyaknya penumpang kapal feri yang membawa kendaraan sendiri, sehingga angkutan umum enggan merapat ke pelabuhan. Di dalam kapal, saya lihat sebagian besar penumpang membawa motor dan hanya sebagian kecil saja yang membawa kendaraan. Adapun angkutan bus dari Lombok menuju Denpasar sedang tidak tersedia dalam pelayaran kami siang itu, sehingga kami pun tidak bisa turut ikut.

Perjalanan menuju Denpasar berkisar 1,5 jam dari Pelabuhan Padang Bai. Kami semua sepakat untuk mengakhiri perjalanan di Terminal Ubung, Denpasar. Saya sendiri memilih mengisi waktu dengan tidur sambil harus berkompromi dengan kepala yang berkali-kali terantuk kaca mobil. Sesampainya di tujuan, saya dan pak Arief serta dua orang lainnya langsung bersalaman dan berpamitan. Kemudian kami pun berpisah mengambil jalannya masing-masing.

Terminal Bus Mengwi
Sebuah bus beranjak keluar dari Terminal Mengwi di Bali. Terminal ini jadi tempat transitnya bus-bus yang hendak menuju ke Tanah Jawa. (Foto: Yudha PS)

Setibanya di Denpasar, saya langsung menuju rumah seorang teman asal Bandung yang sudah sewindu tinggal di Denpasar. Setelah berbincang-bincang selama lebih dari dua jam, menikmati makan malam, serta membasuh wajah, saya pun berpamitan menuju wilayah Kuta Utara. Di sini, saya mampir ke rumah paman yang memiliki bayi berusia sembilan bulan. Kehadiran saya sendiri menyampaikan pesan orang tua yang tidak sempat berkunjung ke Pulau Dewata ketika sang bayi lahir pada awal tahun.

Selama dua hari di Bali, saya memilih diam di rumah sambil mencicil jurnal perjalanan menyusuri daratan Nusa Tenggara Barat. Alasannya sederhana: saya tidak tertarik dengan destinasi wisata di Bali. Pun, pada pekan tersebut, area teman-teman yang ingin saya kunjungi sedang berada di luar jangkauan. Positifnya, setidaknya saya bisa beristirahat dan memulihkan kondisi tubuh sebelum melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya.

Dan ketika waktu tersebut tiba, saya memutuskan untuk beranjak menuju Kota Malang dengan menggunakan bus. Saya mencari beberapa referensi transportasi darat dari Bali menuju Malang di internet. Namun, informasi yang tersedia tidak cukup untuk saya membuat keputusan. Akhirnya, saya mencari-cari di aplikasi penyedia jasa perjalanan dan menemukan beberapa alternatif.

Saya pun memilih bus Malang Indah. Alasannya sederhana, saya bisa memesan tiket dan naik dari pool-nya di bilangan Jalan Pidada di Kota Denpasar, tak jauh dari Terminal Ubung. Saya sendiri menghindari memesan dan naik di terminal karena kawasan tersebut kerap banyak calo dan membuat harga tiket malah menjadi tinggi.

Selepas dzuhur pada Rabu siang pekan kedua September 2019, saya pun berpamitan ke keluarga paman saya untuk meneruskan perjalanan ke Malang. Selang tiga puluh menit, saya tiba di Jalan Pidada XI dan langsung memesan bus yang berangkat jam 15.30 WITA dari lokasi.

Malang Indah sendiri menyediakan dua varian bus jurusan Denpasar – Malang – Blitar, lengkap dengan fasilitas makan malam di perjalanan. Varian pertama memiliki komposisi tempat duduk 2-3 dan tanpa toilet di dalamnya. Harganya pun hanya 120 ribu dan berangkat selepas maghrib waktu setempat. Varian kedua memiliki komposisi tempat duduk 2-2 dengan toilet di dalamnya. Harganya berbeda 50 ribu lebih tinggi dan berangkat selepas waktu ashar di Denpasar.

Pada waktu yang ditentukan, petugas agen memanggil para penumpang untuk naik ke dalam bus, termasuk saya. Bus Malang Indah yang melayani rute Pulau Dewata dan Kota Apel ini termasuk jenis terbaru. Tempat duduknya pun cukup luas dan dilengkapi dengan sandaran kaki di bawahnya, sehingga saya bisa leluasa selonjoran. Di masing-masing tempat duduk juga tersedia selimut yang cukup tebal untuk menghangatkan badan dari terpaan pendingin ruangan.

Sekitar jam 16 WITA, bus mulai mengarungi jalanan Kota Denpasar. Sebelum tancap gas menuju Malang, bus transit terlebih dahulu di Terminal Mengwi, Badung, selama sekitar satu jam. Baru ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat, bus kembali menjajal jalanan Pulau Dewata menuju ke pelabuhan Gilimanuk di ujung Barat Laut Jembrana.

Sepanjang perjalanan, lalu lintas cukup padat yang didominasi oleh kendaraan pribadi berselang truk pengangkut barang. Meskipun demikian, bus melaju seperti tanpa rem sambil meliuk-liuk menyusul kendaraan yang berjalan lebih lambat di depannya. “Karakteristik bus malam dengan supir nokturnal,” pikir saya, sembari berusaha memejamkan mata.

Menyusuri Gelap Lautan
Sebuah kapal feri menyusuri lautan antara Pelabuhan Gilimanuk dan Pelabuhan Katapang. Kapal jenis ini melayani penyeberangan antara Pulau Jawa dan Pulau Bali yang jaraknya hanya sektiar 5 Kilometer. (Foto: Yudha PS)

Di tengah perjalanan, hasrat buang air kecil muncul tiba-tiba, sesuai prakiraan saya. Hanya saja, peristiwa selanjutnya di luar dugaan saya. Di tengah bus yang melaju kencang, saya berusaha menggapai kamar kecil. Ketika saya membuka pintunya, sontak keinginan saya luluh seketika.

Sekilas, dari luar pintu, saya tidak menemukan sumber air yang memadai untuk menyertai saya buang air kecil. Masalah lainnya, bus bergerak terlalu lincah menyusuri jalan yang berkelok sembari menyusul kendaraan. Pastinya, buang air kecil dengan kondisi demikian akan sangat sulit. Akhirnya, saya pun mengurungkan keinginan untuk buang air kecil dan kembali ke tempat duduk kemudian terpejam.

Tepat jam 20 WITA, bus menyalakan lampu terangnya dan membangunkan para penumpang di dalamnya, termasuk saya. Ternyata, setelah berhasil menempuh 112 Kilometer dalam waktu satu setengah jam, bus bersiap untuk memasuki Pelabuhan Gilimanuk dan menyeberang ke tanah Jawa. Selain kami, beberapa mobil dan truk turut mengantri di gerbang menuju Dermaga 2.

Di seberang sana, kilauan lampu gedung-gedung di Pelabuhan Ketapang tampak terang dan menyilaukan siapa pun yang memandangnya. Di ketinggian yang jauh di sebelah barat kami, sesuatu berwarna merah menyala terang dari atas gunung hingga ke lerengnya. Saya dan penumpang yang saya temui menerka-nerka nama gunung dan peristiwa yang tengah terjadi.

Sebagian orang menyebutnya aliran lava yang keluar dari gunung berapi di sekitar Banyuwangi. Namun, sebagian lagi memperkirakan bahwa nyala tersebut berasal dari hutan yang terbakar di puncak gunung hingga ke lerengnya. Entah apa itu, yang pasti, terangnya cukup indah dan menjadi tontonan para penumpang kapal malam itu.

Tak sampai 15 menit, kami semua sudah ada di dalam kapal feri. Saya sendiri langsung mencari toilet untuk menunaikan hasrat buang air kecil yang sempat hilang ketika di dalam bus. Tak seberapa lama, kapal pun bergerak meninggalkan Pulau Dewata menuju pelabuhan Ketapang di Banyuwangi, Jawa Timur.

Bentang lautan di antara kedua pelabuhan tersebut hanya 5 Kilometer. Waktu tempuh kapal penyeberangan antar-daratan hanya sekitar 30 menit, jauh lebih singkat dibandingkan penyeberangan Sumbawa ke Lombok dan Lombok ke Bali. Meskipun mengarungi lautan pada malam hari, tetapi suasana penyeberangan Gilimanuk-Ketapang termasuk ramai dan meriah.

Ternyata, kami bukan kapal satu-satunya yang menyeberang malam itu. Di kanan dan kiri kami terdapat kapal feri yang mengangkut kendaraan dan manusia dengan kecepatan yang sama dengan kami. Awalnya, saya mengira kapal-kapal tersebut hanya terparkir di perairan sekitar pelabuhan. Namun, seiring kami menjauh dari pelabuhan, kapal-kapal tersebut tetap dekat dengan kami. Artinya, mereka pun sama-sama mengarungi lautan antara Bali dan Jawa malam itu.

Karena perjalanan malam dan penglihatan terbatas, saya tidak berhasil memastikan jumlah dermaga di Pelabuhan Gilimanuk dan Pelabuhan Ketapang. Hanya saja, melihat sibuknya kedua pelabuhan tersebut menyeberangkan orang dan barang selama 24 jam non-stop, saya memperkirakan jumlah dermaganya lebih dari dua. Pun frekuensi keberangkatan tampaknya lebih cepat, mungkin 30 menit sekali, bahkan 15 menit sekali.

Tak sampai satu jam, saya sudah tiba di Waktu Indonesia Bagian Barat. Dalam imajinasi, saya cukup takjub bahwa saya melakukan perjalanan melintasi ruang dan waktu ke setengah jam sebelumnya. Padahal, perubahan ini akibat perbedaan zona waktu antara Pulau Dewata yang satu jam lebih awal dibandingkan dengan waktu di Pulau Jawa.

Setelah semua penumpang naik ke dalam bus dan gerbang kapal feri terbuka, bus Malang Indah kembali tancap gas. Perut saya benar-benar keroncongan dan tidak sempat membeli makanan malam itu. Harapan untuk pihak bus menyediakan makanan sirna sudah seiring dengan kantuk yang kembali mendera dan saya terpejam tidur, lagi dan lagi.

Lewat tengah malam, lampu di dalam bus kembali menyala terang benderang. Seseorang berbadan gembul kemudian membagikan kartu berwarna ungu kepada penumpang di depan saya. “Kupon makan, mas,” ujarnya, yang saya sambut dengan gegap gembita. “Yeah, akhirnya makan,” pekik saya kegirangan dalam hati.

Ternyata, paket malam yang ditunggu-tunggu berada di Warung Makan Setia yang berada di area Situbondo, Jawa Timur. Jaraknya sekitar 128 Kilometer dari Pelabuhan Ketapang, atau hampir sama dengan jarak Pelabuhan Gilimanuk dan Denpasar. Warung makan ini buka selama 24 jam non-stop. Banyak bus dan travel dari dan menuju Bali terparkir di sekelilingnya dengan para penumpangnya tengah makan di dalam warung. Umumnya, mereka beristirahat sekitar 30 menit di tempat ini.

Makanannya sendiri tersedia secara prasmanan dan setiap orang bisa mengambil sesuai dengan kebutuhannya. Menu yang tersedia cukup sederhana, yaitu: sepotong ayam, urap sayuran, kukusan bayam, potongan mentimun, dan sayur bersantan serta segelas teh manis hangat. Tersedia juga menu soto ayam dan rawon serta makanan berbasis kuah lainnya. Hanya saja, karena banyaknya pemesan, kita harus menunggu lebih lama untuk makanan kuah tersebut. Lantaran saya sudah sangat lapar, saya pun memilih makanan yang tersaji dan langsung melahapnya segera.

Segera setelah perut supir, kernet, dan seluruh penumpang terisi, bus Malang Indah kembali menjajal jalanan Pulau Jawa. Setelah makan bukanlah waktu ideal untuk tidur. Namun, perut kenyang di dalam bus yang melaju kencang dan bergoyang-goyang pelan membuat siapa pun akan diserang kantuk kembali, dan saya pun tertidur, lagi dan lagi.

Lampu di dalam bus tiba-tiba kembali menyala terang-benderang lantaran ada penumpang yang turun. Tidur saya lagi-lagi terganggu. Hanya saja, perasaan saya menyiratkan bahwa tujuan saya segera tiba. Untuk memastikannya, saya kemudian mengambil ponsel, menyalakan GPS, dan membuka aplikasi peta. Benar saja, Desa Inggris Singosari yang akan jadi tempat pemberhentian saya selanjutnya hanya berjarak 20 Kilometer dari lokasi bus kala itu.

Segera saya mengumpulkan barang-barang yang tercecer di sekitar tempat duduk saya. Setelah mengabsen dan memastikan tidak ada barang yang tertinggal, saya pun berjalan menghampiri supir dan duduk tepat di belakangnya. “Singosari, yah, pak,” bisik saya, sembari menyebutkan sebuah landmark. “Iya, mas. Sebentar lagi itu,” timpal sang supir.

Bagi bus malam dan supir nokturnalnya, 20 Kilometer bukanlah jarak yang jauh. Tak sampai dua puluh menit, saya pun sudah menginjakkan kaki di Kota Malang. Hawa dingin langsung menerpa tubuh saya yang bersweater tebal dan berkupluk. “Sedingin Bandung,” pikir saya sembari berjalan menyusuri jalan kecil Randu Agung Gang V, Singosari, Malang.

Saat itu, waktu sudah menunjukkan jam 4 pagi. Masjid terdekat sudah meraungkan murotal Alquran di speakernya masing-masing. Orang-orang bersarung dan berbaju koko lengkap dengan pecinya mulai berbondong-bondong ke luar rumah menuju sumber suara. Keberadaan orang-orang ini membuat saya tenang menyusuri jalan menuju inspirasi saya selanjutnya.

Tak sampai 800 meter dari Jalan Raya Randuagung, saya sudah tiba di gerbang asrama Desa Inggris Singosari. Segera, saya menelepon mas Avin Nadhir si empunya tempat. Tak sampai 5 menit, dia sudah menampakkan wajahnya di depan gerbang dan mempersilahkan saya masuk.

Mas Avin langsung menyuruh saya masuk ke kamar tamu dan beristirahat di dalamnya. Setelah menaruh tas, mengganti pakaian, dan meraih kantung tidur, saya langsung merebahkan diri di kasur yang tersedia. Suasana yang dingin dan tenang seperti di Bandung ini langsung mengingatkan saya tentang nikmatnya tidur. Dan benar saja, saya pun kembali tertidur dengan teramat lelap dan pulas.***


Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai