Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai

Tiga Aspek Berdamai dengan Si Mba yang Sepuh

Ilustrasi (Foto: b-cdn.net)

Dalam hitungan bulan, MacBook Air saya akan berusia 10 tahun. Sebuah usia yang terbilang sepuh untuk ukuran sebuah komputer. Umumnya, laptop-laptop lain hanya kuat diajak bekerja keras hingga berusia 5 tahun, bahkan sebagian berhenti berfungsi pada usia 3 tahun.

Namun, rentang usia tersebut tidak berlaku untuk produk Apple. Pada usia satu dasawarsa ini, laptop tipis pertama di dunia ini masih sanggup dibawa bekerja, minimal untuk membuat presentasi penuh grafis. Sempat pula untuk diajak membuat video pendek, tetapi saya tidak sampai hati untuk membuatnya bekerja terlalu keras.

Bagi saya, MacBook Air ini punya kenangan tersendiri yang begitu mengagumkan. Si Mba, sebut saja dia demikian, merupakan buah lomba menulis tentang HAM tingkat nasional. “Barangkali ini rezeki dedek bayinya, yah,” ucap panitia lomba, sembari mengusap perut istri saya yang tengah hamil 5 bulan ketika itu.

Setelahnya, bersama Si Mba, saya berkunjung ke negara di ujung bumi Indonesia, dan juga menjajal Nusantara. Sejauh itu pula, si Mba banyak membantu dalam menuliskan kisah-kisah selama perjalanan. Keunggulan lainnya, si Mba juga termasuk kokoh dan tahan banting. Bahkan, pernah terjatuh dari ketinggian penggaris 30 Cm, dan masih tetap baik-baik saja.

Tentunya, pada usianya yang cukup sepuh ini, si Mba tidak segarang sebelumnya. Baterainya sudah tidak berfungsi, serta butuh waktu mencerna lebih banyak kala diajak bekerja, terutama pekerjaan yang berat-berat. Positifnya, saya jadi bisa menolak pekerjaan-pekerjaan yang di luar kompetensi saya untuk saat ini.

Rasanya, untuk mengganti si Mba dengan MbaYu (baca: MacBook Air Baru) bukan perkara mudah. Harganya yang setara motor matic sejuta umat membuat saya harus berpikir ratusan, bahkan ribuan kali. Belum lagi, isi dompet yang selalu melompong bukan padanan yang tepat untuk mengantongi MbaYu.

Akhirnya, saya memang harus bisa berdamai dengan si Mba. Setidaknya, ada tiga aspek perdamaian yang perlu saya negoisasikan bersamanya. Bagaimana pun, konsolidasi semacam ini sangat dibutuhkan untuk menunjang keberlangsungan aktivitas di era digital seperti saat ini.

Aspek pertama, saya harus mengenali aplikasi yang ringan dan mudah bagi si Mba. Adapun aplikasi-aplikasi yang cukup berat bagi “otak” si Mba perlu saya hilangkan, atau pun tidak saya gunakan kembali. Beberapa yang masuk dalam kategori ini, antara lain WhatsApp dan Adobe Reader. Untuk aplikasi WhatsApp sendiri, saya pindahkan ke browser. Adapun pembaca PDF terpaksa saya hilangkan karena memaksa prosesor bekerja cukup berat. Sebagai gantinya, saya menggunakan aplikasi Preview yang merupakan bawaan si Mba.

Untuk Browser, saya menggunakan Opera, atau setidaknya Safari. Keduanya termasuk aplikasi yang cukup ringan bagi si Mba. Adapun Chrome hanya saya gunakan kala memerlukan extension khusus yang tidak ada di Opera dan Safari. Sedangkan urusan bekerja dengan dokumen, saya banyak menggunakan iWork bawaan Apple sendiri. Selain sederhana dan powerfull, aplikasi ini juga cukup ringan bagi si Mba.

Salah satu yang belum saya mampu menemukan titik temunya adalah aplikasi catatan. Sejauh ini, saya masih menggunakan Evernote. Hanya saja, aplikasi ini berjalan ibarat siput di si Mba. Bila memang harus menulis dengan leluasa, saya mulai beralih ke aplikasi catatan Bear atau SimpleNote. Namun, data-data yang sudah menahun di Evernote belum mampu saya pindahkan. Pasalnya, saya belum menemukan aplikasi yang memang selengkap Evernote. Mudah-mudahan, dengan berjalannya waktu, ada aplikasi yang penyimpanan catatannya bisa selengkap aplikasi berlogo gajah tersebut dan ringan diajak jalan.

Tantangan lainnya terkait urusan Zoom dan Google Meet. Untuk Google Meet, saya cenderung menghindari, atau bahkan menolak untuk menggunakannya. Pasalnya, si Mba benar-benar kepayahan untuk menjalankannya. Terlebih, bila saya harus membuka aplikasi lain bersamaan dengan Google Meet.

Aplikasi Zoom sendiri lebih ringan. Saya masih bersedia untuk melakukannya bersama si Mba. Namun, bila harus menjalankan aplikasi lainnya secara bersamaan, saya cenderung angkat tangan. Terlebih, bila harus presentasi dan membuka browser bersama Zoom. Rasa-rasanya, hal ini perlu lebih banyak dihindari lantaran si Mba yang sudah mulai rempong untuk melakukannya.

Aspek Kedua, saya harus meluangkan ruang penyimpanan si Mba. Setidaknya, si Mba harus punya ruang penyimpanan kosong sebesar 30 Gigabyte. Di bawah itu, performanya cenderung memburuk. Dalam hal ini, saya harus mampu memilah dan memilih data dan aplikasi yang tersimpan di si Mba agar tidak semakin membuatnya ringkih.

Untuk urusan aplikasi, mereka yang berukuran besar dan jarang saya pakai terpaksa saya hapus. Bagaimana pun, aplikasi besar semacam ini akan memakan banyak memori ketika dijalankan. Pun karena jarang dipakai, artinya memang tidak terlalu diperlukan untuk bekerja dan beraktivitas. Barangkali, dulu menginstalnya hanya karena penasaran semata. Atau juga, memang aplikasi bawaan si Mba, seperti Garage Band untuk membuat lagu dan iMovie untuk menyunting video. Keduanya bawaan dari si Mba, jarang digunakan, serta memakan banyak memori dan ruang penyimpanan.

Bagi aplikasi yang kerap saya gunakan dan masih membutuhkan ruang penyimpanan besar, ini agak saya pilih-pilih. Bila saya sudah menemukan aplikasi alternatifnya, tentunya dengan senang hati saya hapus, seperti Adobe Reader. Namun, bila saya memang masih memerlukannya dan menjalankannya sesekali, ini masih saya pertahankan. Meskipun demikian, jumlahnya pun cukup sedikit dan tidak memakan banyak ruang penyimpanan.

Adapun urusan data, saya berusaha memindahkan data-data yang prioritas pemakaiannya rendah secara berkala. Selain itu, data-data yang ukurannya besar dan dipakai sesekali memiliki prioritas yang tinggi untuk dipindahkan. Hasilnya, si Mba kini punya ruang penyimpanan hingga 50 persen total penyimpanannya.

Adapun aspek ketiga, saya perlu memetakan aktivitas saya bersama si Mba. Untuk pekerjaan mengetik, membuat presentasi, dan menyusun website, saya masih bisa kerja denga si Mba. Namun, bila masuk urusan berat, seperti menyunting video dan bekerja dengan Google Docs, biasanya saya coba kurangi, atau bahkan hindari. Alasannya sederhana saja, karena si Mba memang sudah tidak sanggup lagi untuk melakukannya.

Saya juga mengurangi aktivitas bersama si Mba di luar ruangan. Salah satunya karena baterai si Mba sudah tidak berfungsi, sehingga tidak leluasa untuk dipindah-pindahkan. Saya pribadi bekerja dengan si Mba bila saya tetap diam di lokasi, setidaknya empat jam lamanya dan terdapat colokan listrik serta koneksi internet. Bila ketiga hal tersebut tidak terpenuhi, saya cenderung memilih menyimpan si Mba di kantong.

Alat kerja yang menua memang sebuah tantangan tersendiri bagi mereka yang lekat dengan media digital. Meskipun demikian, ada sisi positif dan pelajaran yang bisa saya ambil. Pertama, saya mulai perlu memfokuskan kompetensi diri. Rasanya, tidak perlu bercentil-centil ria untuk mencoba banyak aplikasi serta mulai mengerjakan hal-hal yang produktif dan bernilai.

Kedua, saya bisa leluasa berinteraksi dengan banyak orang bila jauh dari si Mba. Tentunya, hal ini berbeda bila si Mba selalu bisa nyala dan berpindah-pindah. Jadinya saya terus fokus dengan pekerjaan, atau mungkin tontonan yang menarik di Youtube.

Ketiga, saya punya waktu bekerja yang dibatasi dengan kinerja si Mba. Bila dia sudah ngos-ngosan, tentunya ini waktunya saya untuk beristirahat, ke luar rumah, atau baca buku yang perlu saya baca. Saya juga jadinya semakin banyak memindahkan aktivitas ke buku, seperti menulis atau menggambar sebuah skema. Sebuah penyegaran yang sudah cukup langka di masyarakat digital.***

Iklan

Diterbitkan oleh Yudha P Sunandar

Penikmat jurnalisme. Lahir, besar, dan tinggal di Bandung, Jawa Barat. Senang untuk menuliskan kisah-kisah inspiratif dan mengunjungi tempat-tempat yang mengagumkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: