Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai

Menelusuri Cheng Ho, Menjejak Kelenteng Sam Poo Kong: Muslim, Tionghoa, dan Nusantara

Saya berfoto di depan patung Cheng Ho di Kelenteng Sam Poo Kong. (Foto: YudhaPS)

SEMARANG. Kota yang satu ini mengingatkan saya pada sosok pemimpin besar tionghoa yang beragama Islam, Laksamana Cheng Ho. Bagi saya yang keturunan tionghoa sekaligus muslim, beliau merupakan inspirasi untuk menelusuri jejak leluhur saya, khususnya dari garis tionghoa. Hal ini pula yang kemudian mendorong saya untuk mengunjungi Kelenteng Sam Poo Kong kala berlabuh di kota lumpia ini awal Maret silam.

Siang di Semarang membuat orang Bandung yang senang dengan udara dingin dan sejuk seperti saya langsung ciut untuk berwisata. Selepas shalat Jumat, godaan untuk menunggu agenda meeting selanjutnya di hotel yang adem semakin kuat. Namun, mengingat waktu kosong yang saya punya di Semarang hanya siang itu, akhirnya, saya benar-benar membulatkan tekad untuk meluncur ke persimpangan antara Jalan Pamularsih Raya dan Jalan Simongan di Bongsari, Semarang Barat, tempat kelenteng Sam Poo Kong berada. Di tempat ini, 600 tahun silam, konon Cheng Ho menyandarkan kapalnya dan menginjakkan kembali kakinya di tanah Jawa.

Dalam beberapa dasawarsa terakhir ini, Cheng Ho kembali menjadi perbincangan dan objek penelitian banyak orang, khususnya mereka yang tertarik dengan kemaritiman, globalisasi purba, dan kekaisaran Tiongkok. Pasalnya, sang laksamana dikenang sebagai pemimpin tujuh ekspedisi besar Dinasti Ming pada abad ke-15. Cheng Ho memimpin armada laut yang melibatkan lebih dari 200 kapal, termasuk 62 kapal di antaranya berukuran besar, dengan lebih dari 27 ribu awak. Dalam kurun waktu 1405 hingga 1433, armada laut besar Tiongkok ini menelusuri berbagai pelabuhan, kerajaan, dan kota-kota besar di antara Asia Tenggara hingga Afrika Timur, termasuk Semarang. Tujuannya sederhana: membangun hubungan baik dan memperkuat pengaruh kekaisaran Tiongkok di kancah global zaman itu.

Menariknya, Cheng Ho merupakan seorang muslim yang memimpin armada dari kekaisaran non-muslim. Dia berasal dari Kampung He Dai, Kabupaten Kunyang, Provinsi Yunan, dan lahir dengan marga dan nama Ma He. Cheng Ho berasal dari keluarga suku Hui, sebuah suku minoritas tionghoa yang mayoritasnya beragama Islam. Ketika dinasti berganti dari Yuan ke Ming, provinsi Yunan menjadi basis Raja Liang yang merupakan sisa-sisa dinasti sebelumnya. Hal ini membuat tentara dinasti yang baru menyerang dan merebut provinsi tersebut serta menawan anak-anaknya, termasuk Cheng Ho. Cheng Ho sendiri lalu dijadikan kasim atau pelayan pada usia 12 tahun dan kemudian diserahkan ke kaisar pertama Dinasti Ming Zhu Yuangzhang. Dia dijadikan pelayan putranya yang ke-empat bernama Zhu Di, yang kelak menjadi kaisar pula.

Sebagai pelayan terdekatnya, Cheng Ho banyak memanfaatkan fasilitas kekaisaran untuk belajar dan membangun keterampilannya. Dia juga turut mendampingi Zhu Di dalam perang perebutan kekuasaan kaisar selama tiga tahun dan menunjukkan prestasi gemilangnya dalam bidang kepemimpinan. Pada saat Zhu Di naik takhta, Cheng Ho dianugerahi marga dan nama baru: Zheng He atau yang lebih dikenal sebagai Cheng Ho. Dia juga diangkat sebagai kepala kasim intern yang bertugas membangun istana dan menyediakan berbagai kelengkapan di dalamnya. Ketika sang Kaisar menitahkan pelayaran ke Samudera Hindia, Cheng Ho sebagai kasim kesayangan sekaligus kepercayaan Zhu Di kemudian dipilih sebagai laksamananya.

Kawasan Wisata Kelenteng Sam Poo Kong, Semarang. Setiap pengunjung bisa masuk ke area ini dengan tiket seharga 10 ribu Rupiah. (Foto: Yudha PS)

Tak sampai 15 menit, saya dan seorang kawan sudah tiba di area parkir Kelenteng Sam Poo Kong dengan menggunakan Takol alias Taksi Online. Karena perut sudah meronta-ronta ingin diisi, akhirnya, kami memilih untuk makan siang terlebih dahulu sebelum berpetualang di area kelenteng. Kala itu, kami memilih santapan berupa soto ayam yang dijajakan di tenda pedagang kaki lima di area kelenteng. Tidak pernah dibayangkan sebelumnya, bahwa tempat saya makan siang itu merupakan sebuah muara besar pada 600 tahun lalu. Tak sampai seratus langkah ke arah selatan, konon Cheng Ho melabuhkan jangkar kapalnya dan membangun tempat peristirahatan sementara bagi salah satu perwira armadanya yang sakit parah dalam pelayarannya tersebut.

Siang itu, kami tidak hanya mendapatkan penganan yang mengenyangkan perut dan segelas minuman dingin dan segar. Dari ibu tua penjualnya serta anaknya yang sudah paruh baya, kami juga mendapatkan banyak cerita tentang area kelenteng yang sudah berusia 600 tahun tersebut: tentang siapa Cheng Ho di mata penduduk Semarang, tentang keempat kelenteng di dalamnya, dan juga tentang apa yang bisa dilakukan di dalam kelenteng tersebut, termasuk mitos-mitos yang melingkupinya. Rasanya, bekal dari warung soto ini cukup lengkap. Selain bekal energi dari nasi yang kami santap, juga ada bekal informasi yang perlu kami buktikan kebenarannya.

Segera, setelah urusan “adat” di warung soto selesai, kami berdua langsung menuju loket untuk membeli tiket seharga 10 ribu Rupiah untuk satu orang. Tiket tersebut berlaku hanya untuk kunjungan ke kawasan wisatanya di halaman kelenteng. Bila ada yang ingin masuk ke kawasan kelentengnya, pengunjung diwajibkan untuk membeli tiket tambahan sebesar 25 ribu Rupiah per orang. Namun, harga ini tidak berlaku untuk mereka yang hendak beribadah atau berkonsultasi dengan bio kong di kelenteng. Hal ini pula yang termaktub dalam arahan di warung soto sebelumnya. Teman saya langsung membeli sebungkus dupa dan beranjak ke area kelenteng. Dengan memperlihatkannya kepada petugas jaga yang dibubuhi beberapa kata-kata kunci, kami pun dipersilahkan masuk ke kawasan kelenteng tanpa harus membayar lebih.

Kawasan wisata sendiri merupakan area seluas lapangan bola dengan berbagai fasilitas pariwisata, termasuk: toilet, mushola, kios makanan dan souvenir, panggung, serta tak lupa patung Laksamana Cheng Ho dengan tinggi total setara gedung empat lantai, atau sekitar 12,7 meter. Umumnya, para pengunjung kerap berkumpul di depan patung Cheng Ho dan berfoto di depannya sebagai “bukti” kedatangannya ke Sam Poo Kong. Patung Cheng Ho tersebut baru dibangun pada awal millenium ketiga dengan tinggi 10,7 meter dan diresmikan pada tahun 2011 silam. Bentuk patungnya mengadopsi salah satu dari dua patung yang sudah ada pada ratusan tahun sebelumnya.

Sedangkan kawasan Kelenteng merupakan area sembahyang bagi penganut Konghucu. Letaknya persis di sebelah selatan kawasan wisata dan hanya dibatasi oleh pagar setinggi sekitar dua meter. Di dalam kawasan ini terdapat empat bangunan kelenteng, yaitu: Kelenteng Sam Poo Tay Djien yang di bangun di atas gua tempat Cheng Ho konon menetap selama beberapa hari, Kelenteng Dewa Bumi, Kelenteng Makam Kyai Juru Mudi, dan Kelenteng Mbah Kyai Jangkar. Selain membayar tiket tambahan, para pengunjung juga harus mentaati batasan di kawasan ini, termasuk melepaskan alas kaki di dalam kelenteng dan tidak boleh masuk ke area ibadah bila tidak bersembahyang.

Kawasan Kelenteng yang dikhususkan untuk area sembahyang bagi umat Konghucu. (Foto: Yudha PS)

Keberadaan kelenteng-kelenteng ini erat kaitannya dengan Wang Jinghong alias Ong King Hong alias Wang Sanbao, orang kedua setelah Cheng Ho dalam armada pelayaran besar kekaisaran Tiongkok kala itu. Dikisahkan, ketika tengah berlayar di laut utara Jawa, Wang sakit keras yang memaksa armada Cheng Ho berlabuh di Pantai Simongan, Semarang. Tak jauh dari tempatnya mendarat, para awak kapal menemukan gua untuk tempat beristirahat. Mereka pun membangun pondok kecil di luar gua sebagai tempat pengobatan bagi Wang. Setelah sepuluh hari membantu mengobati Wang, Cheng Ho melanjutkan perjalanan ke arah timur dan meninggalkan Wang bersama 10 awak dan sebuah kapal untuk menyusul.

Konon, setelah sembuh, Wang justru betah tinggal di Semarang dan menetap di kota tersebut. Dia kemudian membuka lahan perkebunan dan membangun rumah serta memanfaatkan kapal peninggalan laksamana Cheng Ho untuk berdagang di pantai tersebut. Para awak kapal pun menikah dengan penduduk setempat yang membuat kawasan tersebut menjadi ramai dan makmur. Akibatnya, semakin banyak orang Tionghoa yang datang dan menetap serta bercocok tanam di area tersebut. Wang Jinghong yang konon beragama Islam tersebut wafat pada usia 87 tahun dan dimakamkan tak jauh dari gua yang berjuluk Gedung Batu tersebut. Di dalam gua tersebut ditempatkan patung Cheng Ho untuk menghormati Sang Laksamana. Adapun area di sekitar gua tersebut berubah menjadi kelenteng yang kini dikenal sebagai Kelenteng Sam Poo Kong.

Meskipun kisah tersebut banyak beredar di kalangan masyarakat, tetapi Kong Yuangzhi yang menggelar penelitian sekaligus menulis buku tentang Cheng Ho menyangsikan cerita tersebut. Menurutnya, Wang Jinghong turut serta dalam lima pelayaran Cheng Ho dan memimpin armada ketujuh dari Samudera Hindia menuju Tiongkok setelah Cheng Ho wafat di India pada tahun 1433. Bila memang Wang benar-benar dimakamkan di Semarang, ada kemungkinan dia mengundurkan diri sebagai pejabat Dinasti Ming pada usia tuanya dan menyeberang kembali ke Jawa serta menetap di Gedung Batu hingga wafatnya. Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa Wang meninggal di laut kala memimpin ekspedisi ke Sumatera dan jenazahnya dimakamkan di Semarang.

Pendapat lainnya, Cheng Ho tidak pernah menginjakkan kaki ke Semarang, terlebih lagi ke Gedung Batu. Kemungkinannya, dia pernah mengirimkan detasemen armadanya ke Semarang untuk melakukan misi-misi tertentu. Pasalnya, dia pernah melakukan hal serupa dengan mengirimkan detasemen armada ke sejumlah daerah, seperti armada pimpinan Hong Bao ke Bengal dan armada pimpinan Ma Huan ke Mekah. Armada inilah yang barangkali mendarat di Pantai Samongan dan menetap di Gedung Batu serta meninggalkan dua patung Laksamana Cheng Ho di dalamnya. Patung pertama terbuat dari kayu cendana dengan wajah Cheng Ho yang masih berusia 30-40 tahunan. Adapun patung kedua terbuat dari porselen dengan wajah Cheng Ho yang lebih tua.

Jalan menuju gua yang konon menjadi tempat singgah pertama Cheng Ho dan awak kapalnya ketika Wang Jinghong sakit parah. Di atasnya dibangun kelenteng Sam Poo Tay Djien untuk mengenang sekaligus menghormati Cheng Ho. (Foto: Yudha PS)

Simpang-siurnya kisah ekspedisi Cheng Ho ini ditenggarai oleh konflik di dalam Dinasti Ming tentang pelayaran ke Samudera Hindia tersebut. Setengah abad setelah Cheng Ho wafat pada masa Kaisar Zhu Youcheng, bendahara Liu Daxia beserta sebagian pembesar istana memandang bahwa pelayaran Cheng Ho gagal dan kerugiannya lebih besar dari keuntungannya bagi kekaisaran Tiongkok. Golongan ini kemudian berhasil membakar sebagian besar arsip pelayaran Cheng Ho beserta catatan silsilah keluarga sang laksamana. Padahal, Cheng Ho ditemani oleh Ma Huan dan Fei Xin yang merupakan pencatat perjalanan yang cukup cermat dalam pelayaran tersebut.

Kembali ke Semarang. Masyarakat Tionghoa di Semarang sendiri sangat menghormati Cheng Ho dan membangun Kelenteng Sam Poo Kong untuk menghormati beliau. Mulanya, bentuk kelentengnya sangat sederhana berupa gua dengan patung Cheng Ho di dalamnya. Namun, sejak kelenteng berbentuk gua tersebut runtuh pada tahun 1704 akibat angin ribut dan hujan lebat, masyarakat Tionghoa di Semarang pun memugarnya pada tahun 1724. Pada tahun 1938, bangunan kelenteng bertambah luas setelah dipugar oleh Oei Tiong Ham yang terkenal dengan julukan “Raja Gula” di Indonesia. Adapun bangunan kelenteng hari ini merupakan hasil pemugaran tahun 2002 yang selesai tiga tahun kemudian.

Melihat kelenteng-kelenteng tersebut, saya jadi teringat tradisi umat Hindu di Bali. Umumnya, mereka membangun pura di dekat objek tertentu sebagai bentuk penghormatan kepadanya, umumnya kepada alam. Misalnya saja, mereka membangun pura di sungai untuk menghormati sungai agar airnya tetap bersih, atau membangun pura di sekitar mata air untuk menghormati mata air agar alirannya tetap mengalir. Tampaknya, hal yang sama juga berlaku untuk masyarakat Tionghoa. Mereka membangun kelenteng untuk menghormati objek-objek tertentu.

Sam Poo Kong sendiri merupakan kelenteng untuk menghormati empat hal. Kelenteng Dewa Bumi dibangun agar umat Konghucu bisa bersyukur kepada Dewa Bumi yang telah memberikan tanah yang subur dan hasil panen yang melimpah. Adapun Kelenteng Juru Mudi ditujukan untuk menghormati Wang Jinghong yang dipercaya telah membuka daerah Simongan, sehingga menjadi kawasan yang hidup dan makmur. Di tempat ini pula terdapat makam Wang Jinghong di sekitar altar kelenteng. Saya sendiri baru mengetahuinya setelah sampai di Bandung, sehingga tidak sempat untuk menengok makam tersebut. Dari kisah-kisah yang saya dapatkan di internet, nisan makam tersebut seperti layaknya makam seorang muslim dan menghadap ke kiblat di sebelah barat.

Sedangkan Kelenteng Sam Poo Tay Djien dibangun di atas gua yang konon pernah menjadi tempat beristirahatnya Cheng Ho dan para awak kapalnya kala menemani Wang Jinghong yang sakit keras. Di kelenteng ini terdapat jalan masuk ke bawah untuk menuju gua ini. Di dalamnya, terdapat sumber air yang selalu mengalir sepanjang tahun. Di sisi barat laut kelenteng ini dibuat gua baru untuk menempatkan patung Cheng Ho beserta dua pengawalnya: Lauw Im dan Thio Kee. Di dinding bagian luarnya, terdapat diorama perjalanan Cheng Ho yang memanjang dari ujung selatan ke ujung utara Kelenteng Sam Poo Tay Djien. Sam Poo Tay Djien, atau disebut juga San Bao Tai Jian dalam bahasa Mandarin, berarti Kasim San Bao. San Bao sendiri merupakan nama alias Cheng Ho yang menunjukkan posisinya sebagai kasim intern di lingkungan istana kaisar. Nama ini juga disematkan kepada Wang Jionghong, Sang Juru Mudi, yang membuatnya juga dikenal sebagai Wang San Bao. Anthony Hocktong Tjio, seorang pengamat sejarah, berpendapat bahwa San Bao atau Sam Poo merupakan asal nama komplek kelenteng ini yang berarti “Bapak”. Namanya pun bukan merujuk kepada Cheng Ho, tetapi justru mengambil dari Wang Jionghong. Ketika disematkan dengan kata Kong yang merupakan panggilan hormat dan berarti “Yang Mulia”, nama Sam Poo Kong menurut Anthony berarti “Bapak Yang Mulia”.

Kelenteng Sam Poo Kong merupakan muara yang besar pada sekitar tahun 900 hingga 1600. Di muara inilah kapal Cheng Ho mendarat dan menemukan sebuah gua tak jauh dari tempatnya berlabuh. (Peta: Semaran.nl)

Kelenteng terakhir berjuluk Kelenteng Mbah Kyai Jangkar. Sesuai namanya, di tempat ini terdapat jangkar yang konon berasal dari salah satu kapal besar Cheng Ho. Ukurannya setinggi orang dewasa dan terbuat dari baja yang sangat kokoh. Menurut biokong di kelenteng ini, jangkar tersebut ditemukan beberapa meter di depan gedung kelenteng dalam posisi tertanam di tanah. Awalnya, saya tidak percaya dengan keterangan biokong tersebut. Pasalnya, jarak Kelenteng Sam Poo Kong ke laut sekitar 6 Kilometer jauhnya. Namun, pandangan saya berubah ketika saya menemukan peta Semarang tahun 900-1600 di situs Semarang.nl. Di peta tersebut, area Sam Poo Kong pada tahun 1400-an tepat terletak di muara yang sangat besar dan bisa dimasuki kapal besar. Kala itu, jarak ke laut masih sekitar 1-2 Kilometer. Seiring pendangkalan laut utara Jawa, muara pun berangsur-angsur mengecil dan meninggalkan sebuah sungai yang kini berjuluk Banjir Kanal Barat Semarang. Adapun bibir pantai laut utara Jawa menjauh jaraknya hingga 4-6 Kilometer.

Sebagai sebuah situs bersejarah, bagi saya Kelenteng Sam Poo Kong minim narasi historis. Saya hampir tidak menemukan banyak keterangan tentang Cheng Ho selain di bawah patung yang terletak di halaman kelenteng dan diorama sang laksamana di dinding luar gua yang baru di Kelenteng Sam Poo Tay Djien. Adapun keterangan sejarah yang saya tuliskan dalam catatan ini, berasal dari buku Muslim Tionghoa Cheng Ho: Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara terbitan Pustaka Populer Obor yang ditulis oleh Kong Yuanzhi dan disunting oleh Hembing Wijayakusuma. Pihak kelenteng sendiri sebenarnya menyediakan pemandu wisata untuk mendampingi wisatawan guna menyelami lebih dalam Kelenteng Sam Poo Kong lewat narasi historis. Hanya saja, pengunjung perlu menyewanya dengan sejumlah dana.

Berbicara tentang Cheng Ho yang muslim, banyak pihak meyakini bahwa sosok ini punya jasa besar dalam menyebarkan Islam di Nusantara. Kunjungannya ke Sumatera dan Jawa sebanyak enam kali diikuti dengan catatan Ma Huan tentang meningkatnya jumlah Tionghoa Muslim sekaligus masjid di pesisir pantai yang dilaluinya. Dari Wikipedia, saya juga menemukan informasi bahwa Cheng Ho pernah membawa serta dalam pelayarannya dari Campa ke Nusantara dua sosok yang punya kontribusi besar dalam penyebaran Islam di Jawa, yaitu: Syekh Quro dan Syekh Nurjati. Syekh Quro sendiri turun dan menetap di Karawang, sedangkan Syekh Nurjati turun dan menetap di Cirebon. Keduanya kemudian aktif menyebarkan Islam di Jawa Barat. Syekh Quro sendiri merupakan salah satu pelopor era Wali Songgo.

Patung Cheng Ho yang ada di Kawasan Wisata Kelenteng Sam Poo Kong. Patung perunggu ini memiliki tinggi total 12,7 meter dan diresmikan pada tahun 2011. (Foto: Yudha PS)

Meskipun demikian, tidak ada catatan dari Ma Huan yang muslim tentang upaya Cheng Ho dalam menyebarkan Islam, khususnya di Nusantara. Sebagian pengamat melihat bahwa Cheng Ho melakukan ekspedisi pelayaran tersebut dengan misi utama membangun hubungan diplomasi antara Tiongkok dan kerajaan-kerajaan di Samudera Hindia. Oleh karena itu, wajar saja bila kemudian Ma Huan tidak memprioritaskan catatan tentang aktivitas Cheng Ho dalam memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat yang ditemuinya. Adapun dalam catatan Fei Xin tidak menyinggung sama sekali tentang kaum muslim di tempat-tempat yang dikunjunginya.

Jejak masyarakat Tionghoa Muslim pun cenderung hilang dalam jejak peradaban di Nusantara, khususnya di Jawa dan Sumatera. Kemungkinan besar, mereka memilih untuk berbaur dan menikahi pribumi serta meninggalkan identitasnya ketionghoaannya. Hal ini seperti yang terjadi di Semarang sekitar abad ke-15. Masyarakat Tionghoa Muslim didorong untuk membaurkan diri dengan masyarakat Jawa dan memakai nama serta cara kehidupan orang Jawa. Wajar saja bila kemudian masyarakat Tionghoa yang non-muslim lebih menonjol karena cenderung mempertahankan identitasnya, bahkan hingga saat ini.

Petang mulai menjelang, dan hujan mulai datang. Saya dan seorang kawan harus segera berangkat menuju agenda meeting selanjutnya. Dan rasanya, berbicara tentang Tionghoa dan Muslim serta Nusantara, memang tidak akan tuntas hanya dengan menelusuri jejak Cheng Ho seorang. Pun menggali tentang Cheng Ho, tidak akan pernah selesai hanya dengan berkunjung ke Kelenteng Sam Poo Kong semata. Namun, dari mengunjungi Kelenteng Sam Poo Kong dan menelusuri riwayat Cheng Ho, saya semakin sadar, bahwa perjalanan menggali hubungan tentang Tionghoa, Muslim, dan juga Nusantara masih teramat jauh. Barangkali, sejauh tujuh ekspedisi lautan sang laksamana.***

Iklan

Diterbitkan oleh Yudha P Sunandar

Penikmat jurnalisme. Lahir, besar, dan tinggal di Bandung, Jawa Barat. Senang untuk menuliskan kisah-kisah inspiratif dan mengunjungi tempat-tempat yang mengagumkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: