Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai

Merentang Perjuangan Pembebasan Perbudakan di Amerika Serikat

Patung Martin Luther King Jr. yang terletak di National Mall, Washington DC, Amerika Serikat. (Foto: Yudha PS)

I have a dream that one day this nation will rise up and live out the true meaning of its creed: “We hold these truths to be self-evident, that all men are created equal.”

Petikan pidato Martin Luther King Jr. tersebut membahana di hadapan 250 ribu orang pendukung hak asasi manusia di Washington DC pada 28 Agustus 1963. Kala itu, Martin tengah menyuarakan keresahannya tentang rasisme yang berlangsung di Amerika, khususnya pada perbedaan warna kulit. Warga Afro-Amerika ditempatkan sebagai warga kelas dua.

Perjuangan persamaan hak manusia di Amerika sudah berlangsung sepanjang berdirinya negara tersebut, sejak mereka mengumandangkan kemerdekaannya hingga wafatnya George Floyd pada akhir Mei lalu. Hanya saja, perjuangan tersebut selalu menemui jalan terjal, berkelok, dan berkerikil tajam.

Ide berdirinya Amerika sendiri dipicu oleh jengahnya 13 negara koloni terhadap kesewenang-wenangan Inggris di daratan Amerika. Mereka memulai revolusi bersenjatanya pada rentang waktu 1775 hingga 1783. Adapun deklarasi kemerdekaan berhasil dirumuskan pada 4 Juli 1776 dengan konstitusinya mengalami 27 amandemen hingga saat ini. Sepuluh amandemen pertama di antaranya terkait hak asasi manusia.

Amerika sendiri berbeda dengan negara kesatuan seperti Indonesia. Pada awalnya, ada beberapa “negara” di bawah koloni Inggris yang kemudian bersatu membentuk negara baru. Pemerintahan Nasional, yang dikenal juga dengan julukan Pemerintahan Federal, dipimpin oleh seorang Presiden. Dalam hal ini, presiden merupakan “pelayan” bagi negara-negara bagian yang ada di Amerika dan fokus kepada kebijakan nasional dan luar negeri.

Hanya saja, presiden dan pemerintah federal tidak berhak untuk mendikte kebijakan yang ada di setiap negara bagian. Oleh karena itu, kita kerap menemui banyak negara bagian yang memiliki kebijakan yang berbeda satu sama lain pada isu yang sama. Misalnya saja, ketika saya ke sana pada 2013 silam, kebijakan legalnya ganja baru diresmikan di tiga negara bagian. Di luar negara bagian tersebut, mereka yang kedapatan membawa ganja bisa jadi diproses secara hukum.

Di sisi lain, ide hak asasi kemanusiaan sudah menggaung di ranah publik Amerika beberapa tahun sebelum kemerdekaan negara tersebut tercapai. Pada 1774 misalnya, Thomas Paine, teoris politikal radikal datang ke Amerika dan mempublikasikan risalah berjudul Common Sense yang mengkritik pemerintahan monarki dan mendorong kemerdekaan dan kemandirian. Bahkan, karya John Locke berjudul Second Treatise on Government yang terbit pada abad sebelumnya masuk ke dalam pembuka deklarasi kemerdekaan Amerika, khususnya soal semua manusia diciptakan sederajat sekaligus dianugerahi dengan hak-hak yang tidak dapat dihapuskan.

Dalam peradaban barat kala itu, Amerika termasuk negara yang “beda sendiri”. Pasalnya, kala negara barat lainnya berlomba-lomba untuk memperkokoh segregasi kelas sosial dan menaklukan dunia baru, Amerika justru hadir dengan ide sebagai negara yang terbuka dan merdeka sekaligus setara untuk semua suku, agama, dan ras. Ide inilah yang kemudian banyak menuai pujian serta dukungan dari banyak warga Eropa yang memiliki pandangan serupa.

Perjuangan Amerika untuk bebas dan merdeka turut menjadi narasi pidato presiden Soekarno kala menggaungkan kebebasan bangsa Asia-Afrika. Pada pembukaan Konperensi Asia-Afrika pada 1955 silam, Soekarno mengutip kisah Paul Revere dan pemulaan perang kemerdekaan Amerika. “Perang anti kolonial yang untuk pertama kali dalam sejarah mencapai kemenangan,” ucap Soekarno dalam pidato bertajuk Let a New Asia and a New Africa be Born!.

Hanya saja, ide kesetaraan dan kemerdekaan yang digagas oleh para pendiri Amerika masih jauh dari ideal. Konflik tidak hanya berlangsung secara psikologis, tetapi juga secara fisik. Tengoklah perang saudara yang berlangsung pada 1861-1865 di Amerika yang membelah negara tersebut menjadi dua bagian: utara dan selatan, pejuang pembebasan budak melawan pendukung perbudakan. Selama 4 tahun, 10 ribu lebih pertempuran terjadi dengan 50 perang di antaranya termasuk dalam kategori besar dan 100 perang lainnya termasuk kategori signifikan. Tiga juta lebih serdadu terlibat di kedua belah pihak dan 620 ribu orang di antaranya gugur. Puncaknya, Abraham Lincoln yang menjadi presiden Amerika kala itu juga gugur lantaran dibunuh oleh pihak selatan.

Selepas perang besar tersebut, perjuangan bangsa Amerika untuk menjadi negara yang terbuka dan setara bagi semua orang masih harus menemui banyak rintangan. Segregasi sosial antara kulit putih dan kulit berwarna masih terjadi di berbagai sudut wilayah Paman Sam. Hanya saja, sejalan dengan fenomena tersebut, semakin banyak pula orang yang berjuang untuk menegakkan kesetaraan hak di Amerika. Bahkan, beberapa di antaranya harus rela menjadi martir, termasuk: Abraham Lincoln dan Martin Luther King Jr.

Salah satu sudut Martin Luther King Jr. Memorial yang menyajikan petikan-petikan pidato I Have a Dream. (Foto: Yudha PS)

Meskipun perjuangan belum usai, perlahan tapi pasti, Amerika berjalan ke arah yang sama dengan harapan para bapak bangsanya. Bangsa Afro-Amerika mulai menempati posisi istimewa dalam kehidupan sosial mereka. Hal ini tampak dari berdirinya museum African-American di kompleks National Mall di Washington DC pada 2016. Bagi bangsa Amerika, museum di pusat pemerintahan Amerika merupakan simbol pengakuan bangsa Amerika terhadap sebuah isu, dalam hal ini soal bangsa Afro-Amerika.

Pengakuan lainnya tampak dari berdirinya Martin Luther King Jr. Memorial di komplek National Mall seluas 1,6 hektar pada 2011 silam. Tugu ini terletak dan sejajar di antara Lincoln Memorial dan Thomas Jefferson Memorial. Bagi masyarakat Amerika, ketiga memorial tersebut berjuluk “Garis Kemanusiaan”. Pasalnya, ketiganya merupakan tokoh sekaligus pejuang persamaan hak manusia di Amerika.

Dan tentunya, pengakuan terbesar Amerika terhadap bangsa Afro Amerika kala dilantiknya Barack Obama sebagai presiden pada 2009 silam. Presiden ke-44 Amerika tersebut merupakan presiden Amerika pertama dari kalangan bangsa kulit berwarna.

Kesadaran terhadap kesetaraan hak juga mulai tampil dalam ruang-ruang media populer, khususnya pada abad ke-21 ini. Tengoklah film-film produksi Amerika yang mengangkat kisah para tokoh kulit berwarna untuk meraih persamaan haknya kala masa segregasi sosial di Amerika. Bahkan, beberapa di antaranya termasuk film-film yang banyak menarik perhatian publik Amerika. Hal ini merupakan pertanda bahwa masyarakat negeri Paman Sam mulai menginternalisasi perjuangan pembebasan perbudakan dan kesetaraan hak kemanusiaan sebagai bagian dari diri mereka.

Lantaran internalisasi kesadaran inilah yang juga turut memicu demo besar-besaran di Amerika selepas wafatnya George Floyd. Sebagai martir, dia telah menggugah sebuah bangsa yang majemuk untuk menegakkan kembali cita-cita para pendiri Amerika pada 1776 silam. Sebuah cita-cita untuk menegakkan nilai-nilai kesetaraan dan penghormatan kepada manusia. Sebuah nilai universal yang selalu digaungkan oleh banyak agama di dunia: melawan perbudakan serta membangun diri yang bebas dan merdeka.***

Tulisan ini dipublikasikan pertama kali di Harian Umum Pikiran Rakyat pada Sabtu, 6 Juni 2020

Iklan

Diterbitkan oleh Yudha P Sunandar

Penikmat jurnalisme. Lahir, besar, dan tinggal di Bandung, Jawa Barat. Senang untuk menuliskan kisah-kisah inspiratif dan mengunjungi tempat-tempat yang mengagumkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: