Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai

Kelor, Si Tanaman Multi-Nutrisi

Sepiring Nasi Kelor yang dilengkapi dengan batagor goreng a la Bandung. (Foto: Yudha PS)

Ini penganan saya setiap hari selama lebih dari sebulan terakhir ini: rebusan kelor + batagor + nasi. Sejak penduduk kota Bandung dihimbau untuk diam di rumah, menu tersebut jadi santapan kami pada setiap waktu makan: sarapan, makan siang, dan juga makan malam.

Tanaman kelor sendiri sudah tumbuh di pekarangan rumah saya selama 3 tahun terakhir ini. Dari sekian batang kelor yang saya tancapkan tahun 2017 silam, alhamdulillah, satu tanaman mampu bertahan hidup dan menjulang ke angkasa. Saat ini, tingginya sudah setara bangunan dua tingkat.

Saya cukup terpesona dengan kandungan tanaman ini. WHO menobatkan tanaman berjuluk Moringa ini sebagai “senjata” untuk menanggulangi gizi buruk di dunia, khususnya di benua Afrika. Nutrisinya terbilang kaya bila dibandingkan gabungan penganan penting yang kerap kita temui dalam keseharian. Beberapa di antaranya: kalsium setara 17 kali susu, potasium setara 15 kali pisang, vitamin E setara 7 kali ragi, vitamin C setara 7 kali jeruk, vitamin A setara 4 kali wortel, serat setara 4 kali gandum, asam amino setara 1,5 kali telur, protein setara 2 kali yoghurt, serta zat besi setara 9 kali bayam.

Khasiat lainnya, kelor dipercaya mampu menyembuhkan beberapa sakit yang tergolong berat, seperti kanker. Seorang kawan pernah bercerita bahwa dia menyuruh koleganya yang penyandang kanker stadium awal untuk mengkonsumsi kelor secara rutin. Sang kolega kawan saya pada saat itu mendapati benjolan di payudaranya. Setiap pagi, dia pun memakan lalapan daun kelor segar yang dipetik langsung dari halaman rumahnya. Tiga bulan kemudian, benjolan di payudara kolega kawan saya itu pun mengecil dan hilang.

Meski sudah menghuni halaman rumah kami bertahun-tahun, hanya saja saya benar-benar baru mengkonsumsi tumbuhan multi-nutrisi ini setiap hari sejak pertengahan Maret lalu. Kala itu, saya mengalami demam dan flu berat bersamaan dengan liburnya sekolah di Bandung dan ramainya isu Corona di tatar Parahyangan. Sejak saat itu pula, saya pun giat menyantap kelor sebanyak mungkin. Selain untuk memulihkan kondisi tubuh, panganan ini juga diharapkan bisa menjaga stamina badan saya.

Sebelumnya, saya biasa melahap kelor bersamaan dengan mie goreng instan. Bumbu mie instan membantu memperkaya rasa kelor menjadi lebih gurih dan sedap disantap. Di luar itu, sesekali saya mencemil daun kelor secara langsung. Itu pun sangat jarang dan biasanya karena tubuh benar-benar butuh nutrisi yang cukup banyak.

Kembali ke piring saya. Di tengah pandemi Corona seperti saat ini, kelor membantu kami menyuguhkan hidangan yang semurah mungkin sekaligus menyehatkan nan kaya nutrisi. Satu-satunya yang perlu kami usahakan hanyalah nasi yang belum mampu kami tanam mandiri. Cara mengolah kelornya pun cukup sederhana: rebus dengan air dalam beberapa menit kemudian tiriskan dan sajikan. Bila pun ada lauk lainnya, fungsinya hanya untuk memanjakan lidah agar rasanya tidak terlalu hambar dan tawar. Dalam hal ini, kami menggunakan batagor buatan sendiri.

Kelebihan lainnya, budidaya kelor cukup mudah. Hanya dengan menancapkan bagian batangnya, tumbuhan ini akan bertunas dalam beberapa hari dan membesar beberapa bulan kemudian. Syaratnya, jaga kelembaban dan cahaya mataharinya. Dalam rentang waktu tersebut, kita sudah bisa memetik hasilnya untuk santapan satu keluarga kecil setiap hari.

Bagaimana dengan kawan2 semua? Apa penganan pada periode #dirumahaja seperti saat ini?***

Iklan

Diterbitkan oleh Yudha P Sunandar

Penikmat jurnalisme. Lahir, besar, dan tinggal di Bandung, Jawa Barat. Senang untuk menuliskan kisah-kisah inspiratif dan mengunjungi tempat-tempat yang mengagumkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: